Surabaya – Ada banyak cara untuk mengajarkan mengenai cinta terhadap lingkungan dan satwa kepada anak sejak usia dini. Salah satunya dengan mengenalkan secara langsung satwa-satwa yang harus dilindungi, serta mengajarkan cara merawat dan memelihara satwa yang ada di rumah dengan baik.
Edukasi dan pengenalan satwa kepada anak menjadi kegiatan yang dilakukan SDK St. Aloysius Surabaya, dalam rangka memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional yang jatuh setiap 5 November. Bertempat di halaman SDK St. Aloysius, Jumat (7/11/2025), ratusan anak berkesempatan mengenal sejumlah satwa eksotik yang boleh dipelihara dan dikembangbiakkan oleh masyarakat.

Para siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 sekolah dasar ini dapat belajar mengenai satwa sambil berinteraksi atau menyentuh langsung satwa yang dibawa oleh tim dari Jasa Konservasi Satwa (Jakonsat). Sejumlah satwa yang dibawa untuk ditunjukkan sebagai media belajar dan mengenal satwa adalah ular piton (Malayopython reticulatus) albino, ball piton (Python regius), iguana hijau (Iguana iguana), celepuk (Otus) atau sejenis burung hantu, serak jawa (Tyto alba) sejenis burung hantu, bay owl atau sering disebut serak bukit atau celepuk teluk oriental (Phodilus badius), musang pandan (Paradoxurus hermaphroditus), kelinci (Oryctolagus cuniculus), kadal padang pasir (gecko), soa layar atau soa halmahera (Hydrosaurus weberi), dan panana atau kadal lidah biru sulawesi (Tiliqua).
Achiles, salah satu siswa kelas 4 nampak tertarik dengan satwa sejenis burung hantu berukuran kecil. Ini merupakan pertama kali ia bersentuhan dengan satwa yang jarang dipelihara oleh masyarakat umum. Ada pula Kumaro, siswa kelas 6 yang tertarik dengan satwa semacam iguana. Sedangkan siswa yang lain mencoba berani berinterkasi dengan ular piton albino.

Waluyanto Nugroho selaku Kepala SDK St. Aloysius Surabaya, mengatakan peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa ingin mengajarkan kepada para siswa untuk mencintai lingkungan beserta keanekaragaman yang ada di dalamnya, salah satunya dengan menjaga dan melestarikan satwa yang ada di Indonesia.
“Mulai dari memelihara dan menjaga satwa yang ada di rumahnya, supaya mereka memperlakukannya dengan baik, menjaganya dengan baik,” kata Waluyanto Nugroho.
Tim dari Jakonsat menerangkan satu persatu satwa yang dibawa, mulai morfologi, jenis makanan, hingga kebiasaan yang dilakukan satwa. Selain itu, juga dijelaskan bagaimana cara memelihara dan merawat satwa, terutama memastikan kesehatan satwa menjadi perhatian penting bagi siapa pun yang memelihara satwa.
Drh Faisol, salah satu pengurus Jakonsat, mengajak para siswa yang memiliki atau memelihara satwa di rumah, harus memperhatikan perawatan dan kesehatan satwa sebagai bentuk mencintai satwa. Satwa yang dipelihara jangan sampai disakiti, atau dibiarkan tidak dirawat dengan baik. Beberapa hal yang mesti diperhatikan saat memelihara satwa, menurut Drh. Faisol, yaitu satwa harus terhindar dari rasa stres atau tertekan oleh situasi di sekitarnya, khususnya dari kondisi terancam oleh satwa predatornya.
“Satwa jangan sampai sakit, harus diperhatikan kesehatannya, satwa juga harus diberi vitamin,” ujar Drh. Faisol.

Keseimbangan alam dan rantai pasokan makanan di alam dipengaruhi oleh kelestarian satwa. Bila satwa punah atau terancam kritis, maka dapat mengakibatkan ketidakseimbangan ekosistem. Edukasi yang diberikan juga diberikan terkait satwa apa yang boleh dipelihara, dan yang tidak boleh dipelihara habitatnya berada di alam liar.
Koordinator Jasa Konservasi Satwa (Jakonsat), Heni Murtiningsih, mengatakan organisasinya bergerak di bidang edukasi untuk pelestarian satwa yang dilakukan di sekolah-sekolah dan komunitas atau kelompok masyarakat. Jakonsat mengajak masyarakat agar lebih peduli terhadap kelestarian satwa, dengan tidak berburu satwa di alam liar.
“Jangan berburu satwa karena di habitatnya juga sudah punah atau berkurang, generasi sekarang harus lebih mencintai satwa, sebagai bentuk kontribusi menyelamatkan satwa,” kata Heni.

Ancaman Deforestasi
Data dari Global Forest Wacth menyebutkan Indonesia berada di posisi teratas negara di dunia dengan hilangnya tutupan pohon hutan premier, yang menjadi ancaman terbesar bagi keanekaragaman hayati Indonesia.
Sejak 2002 hingga 2024, ada kurang lebih 11 Mha hutan primer basah, yang menyumbang 34 persen dari total kehilangan tutupan pohon di periode yang sama. Pada periode waktu yang sama, 11 persen hutan primer basah di Indonesia hilang atau beralih fungsi.
Kerusakan ekosistem dan habitat menjadi ancaman serius hilangnya keanekaragaman hayati, berdasarkamn laporan buku “Status Kekinian Keanekaragaman Hayati Indonesia 2024” keluaran BRIN dan Bappenas tahun 2025. Perubahan tata guna lahan untuk pertanian, perkebunan, serta infrastruktur, menjadi penyebab hilangnya keanekaragaman hayati di Indonesia.
Flora dan fauna endemik Indonesia merupakan warisan tak ternilai yang merupakan titipan generasi penerus, sehingga menjaga keseimbangan ekosistem lingkungan merupakan kewajiban seluruh warga masyarakat. Peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional diharapkan menjadi pengingat untuk bersama-sama menyelamatkan flora dan satwa dari ancaman kepunahan. (Petrus Riski)

