Menghidupkan Kembali Permainan Tradisional Melalui Ajang Olahraga

Sri Wahyuni, Deputi Pembudayaan Olahraga, Kemenpora, mencoba permainan panahan saat membuka Festival Olahraga Tradisional Kemenpora 2025 di Krian, Sidoarjo, Jumat 28 November 2025 (Foto: Petrus Riski)

Sidoarjo – Festival Olahraga Tradisional Kemenpora 2025 digelar di Alun-alun Kraton Jenggolo Manik, Sidomukti Kraton, Sidoarjo, Jumat 28 November 2025. Ajang perlombaan permainan tradisional di Sidoarjo ini merupakan satu dari dua tempat gelaran festival olahraga tradisional di Indonesia, yang diselenggarakan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).

Tiga permainan tradisional dilombakan dalam festival ini, yaitu Terompah Panjang, Balap Lari Balok, dan Paseran atau Panahan. Lebih dari 500 peserta mengikuti festival olahraga tradisional ini, dari sejumlah sekolah tingkat pertama, sekolah menengah, dan komunitas masyarakat dari lima daerah, yaitu Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan. Gresik, dan Mojokerto.

Sri Wahyuni, Deputi Pembudayaan Olahraga, Kementerian Pemuda dan Olahraga, membuka festival yang didukung oleh Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI), bersama sejumlah pemangku kepentingan di Jawa Timur dan Kabupaten Sidoarjo.

Peserta berlomba mencapai garis finish tercepat pada lomba terompah panjang Festival Olahraga Tradisional Kemenpora 2025 (Foto: Petrus Riski)

Sri Wahyuni mengajak para peserta untuk bergembira bersama melalui permainan tradisional, dengan harapan dapat menjalin relasi antarpemuda sambil melestarikan warisan budaya bangsa dalam bentuk permainan.

“Mari berprestasi dan menjaga warisan tradisional Indonesia,” ajak Sri Wahyuni.

Festival olahraga tradisional ini bukan hanya ajang meraih prestasi, tapi juga sebagai upaya melestarikan permainan tradisional yang sarat makna serta pelajaran hidup di dalamnya. Wahyuni menekankan agar generasi muda tidak melupakan dan meninggalkan permainan tradisional, ditengah maraknya permainan modern terutama yang berbasis teknologi dgital.

“Jangan sampai di masa depan permainan ini semakin dilupakan dan punah, kita harus menjaga warisan ini dan melestarikannya terus,” lanjutnya.

Seorang siswa berlatih lari balok sebelum sesi lomba dimulai (Foto: Petrus Riski)

Ketua Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI), Provinsi Jawa Timur, Ridho Saiful Ashadi, mengatakan permainan tradisional ini merupakan budaya yang tumbuh di masyarakat, yang diciptakan dari cipta rasa karsa para leluhur yang sarat nilai dan sumber pemikiran di dalamnya.

“Melalui olahraga tradisional ini kami berusaha memadukan upaya antara melestarikan budaya dan membugarkan bangsa,” harap Cak Ipoel, panggilan akrabnya.

Saiful mengakui permainan seperti ini sudah semakin jarang dimainkan pada masa kini. Permainan tradisional banyak dimainkan pada masa-masa tertentu seperti saat tujuh belas agustusan. Ajang ini, kata Ipoel, ingin mendekatkan dan memopulerkan kembali permainan tradisional di tengah masyarakat. Terlebih generasi muda saat ini banyak yang kecanduan gim online atau gadget, dibanding permainan yang mengutamakan interaksi sesama manusia secara langsung.

Pembukaan Festival Olahraga Tradisional Kemenpora 2025 ditandai demgan memainkan kitiran atau baling-baling secara bersama-sama (Foto: Petrus Riski)

“Kecanduan ini menjadi keprihatinan kita bersama, dan melalui olahraga tradisional ini diharapkan menjadi jeda atau mengurangi intensitas anak-anak kita dengan gadget,” tandas Ipoel.

Saat ini sudah ada 11-14 cabang olahraga tradisional yang sudah dibakukan. Ipoel bermimpi ada ajang seperti olimpiade atau pekan olahraga nasional berbasis olahraga tradisional digelar di Indonesia. (Petrus Riski)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *