Soroti Situasi Hukum Saat ini, Teater BMS Angkat Lakon Skolah Skandal

Adegan dalam Skolah Skandal, mempertemukan para pajabat tinggi di bidang hukum dengan pengusaha kaya yang berpengaruh dalam memainkan jalannya hukum (Foto: Petrus Riski)

Surabaya – Puncak acara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-53 Bengkel Muda Surabaya (BMS) bertema “Surabaya Ayo Bicara”, Kamis 11 Desember 2025, menampilkan seni teater yang mengangkat judul Skolah Skandal. Naskah karya seniman Akhudiat ini coba diangkat kembali karena sangat relevan dengan kondisi masyarakat dan bangsa saat ini. Cerita ini terakhir dipentaskan pada November 2011 pada Festival Seni Surabaya, di bawah arahan Akhudiat sendiri.

Pecinta pentas seni di Surabaya seakan mendapat kesempatan berharga menonton pertunjukan yang mulai langka ini, karena tidak banyak acara pertunjukan yang ditampilkan di dalam gedung dengan biaya gratis. Meski cuaca sempat hujan pada sore harinya, pertunjukan hari kedua dihadiri lebih banyak pengunjung yang ingin melihat tampilan teater BMS yang sempat mengalami vakum cukup panjang tampil di Balai Budaya, Komplek Balai Pemuda Surabaya. Sekitar 250 penonton tetap bertahan sampai pertunjukan selesai pada pukul 22.00 WIB, seolah mengisyaratkan kecintaan akan seni dan kebudayaan dari warga kota ini masih ada.

“BMS sudah lama dinanti. Tapi mencari generasi penerus itu sangat sulit. Anak-anak muda sekarang banyak yang tidak mau berproses. Maunya instan,” ujar Ndindy Indiyati, Ketua Program BMS, yang menyiratkan keprihatinan terhadap masa depan seni teater.

Adegan di Skolah Skandal, menampilkan masyarakat yang protes dengan proses hukum yang diwarnai suap dan terkesan lambat menangani perkara rakyat biasa (Foto: Petrrus Riski)

Sutradara Skolah Skandal, Heroe Budiarto, sengaja memilih lakon ini sebagai produksi kebangkitan kembali BMS, karena memiliki makna yang sangat mendalam dan beragam, serta sangat relevan dengan realitas bangsa saat ini. Kisah dalam Skolah Skandal menunjukkan kenyataan bahwa penjara bukan sekadar tempat menjalani hukuman, melainkan ruang transaksi kehidupan. Di balik penjara, kepala demi kepala saling bertukar untuk menjalani hukum yang tidak seharusnya. Harapan hidup dapat dibeli, keadilan bisa dilelang, dan masa depan bisa ditukar dengan uang.

“Kekuasaan yang berganti-ganti, harapan yang bisa dibeli, dan keadilan yang dilelang, semuanya digerakkan oleh satu benda yang paling akrab dalam kehidupan manusia, uang,” kata Heroe Budiarto.

Pejabat dan aparat penegak hukum korup memungkinkan tukar kepala dalam penjara (Foto: Petrus Riski)

Pertunjukan ini diolah dengan gaya ringan, cenderung cair, dengan kostum modern warna-warni yang menambah visual yang dinamis. Sentuhan gerak tari dan lagu-lagu satire membuat kritik yang disampaikan tidak terasa menggurui. Melalui satire dan tawa getir, Skolah Skandal bukan hanya menelanjangi wajah hukum yang kotor, tetapi juga memaksa kita melihat wajah masyarakat yang lelah berharap, atau bahkan kenyataan masyarakat yang memilih diam karena sudah terbiasa atau dianggap wajar.

“Bahwa kita sering berharap, sering kecewa, dan sering memilih diam, bukan karena tidak tahu, tetapi karena sudah terbiasa,” ujarnya.

Tidak hanya kemampuan menghidupkan naskah melalui dialog, pemain harus mampu olah gerak di atas panggung untuk menghidupkan peran yang dilakoninya (Foto: Petrus Riski)

Gelak tawa tingan dari bangku penonton sesekali terdengar merespon adegan konyol dan kata-kata yang menusuk hati setiap orang, seakan mengamini bahwa seperti itulah yang terjadi selama ini di dalam masyarakat dan aparatur pemerintahan. Pementasan Skolah Skandal seakan menjadi pemantik agar masyarakat Surabaya khususnya, kembali menjadi pribadi yang berani dan kritis terhadap sesuatu yang keliru di mayarakat, bukan malah membiarkannya karena belum mengalaminya sendiri.

Sutradara Skolah Skandal, Heroe Budiarto, sengaja memadukan para pemain pada pementasan ini dari pemain senior dan pendatang baru, sebagai bagian dari regenerasi. Ada pemain senior Ndindy Indiyati yang berperan sebagai Wak Girah, Saiful Hadjar sebagai Wakde Balong, dan Ipong menjadi Kepala Polisi. Mereka menjadi jangkar kekuatan dramaturgi pada lakon kali ini.

Para pemain, kru, dan sutradara Skolah Skandal usai pementasan berfoto bersama (Foto: Petrus Riski)

Sedangkan para pemain baru menampilkan Dela (Wak Yam Cawik), Renita (Mimin), Asti (Yu Kasihani), Maureen (Ibu 1), Bilqis (Ibu 2), Rinov (Dalang dan Mr Mamok Petak), dan Zain (Kepala Penjara), hadir sebagai darah segar yang menyerap energi panggung dengan cepat. Kombinasi ini bukan hanya strategi artistik, tetapi juga bentuk pendidikan teater yang melekat dalam tradisi BMS.

“Belajar bersama, tumbuh bersama, menjaga api estetik agar tetap hidup lintas generasi,” imbuhnya.

Heroe mengakui masih banyak kekurangan dalam produksi kali ini, namun ia merasa lega melihat anak-anak muda BMS menunjukkan konsistensi dan disiplin. (Petrus Riski)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *