Surabaya – Sebuah kota adalah tempat bertemunya banyak orang dari beragam latar belakang, yang membawa perbedaan dan pengaruh yang mewarnai dinamika yang ada di tengah masyarakat. Demikian pula dengan Kota Surabaya yang tidak pernah diam, terus bergerak dengan ritme sosial, ekonomi, politik, budaya dan keamanan yang terjadi di dalamnya. Dari ritme masyarakat kota inilah peristiwa kebudayaan seringkali lahir, namun seringkali pula bersifat sporadis, sesaat dirayakan, kemudian tenggelam dalam ritme kehidupan perkotaan yang bergerak capat.
Bengkel Muda Surabaya (BMS) menjadi salah satu wadah dan ruang untuk mengekspresikan kreativitas dalam seni budaya di Kota Surabaya. Pada usia ke 53 tahun, BMS mengajak semua warga masyarakat khususnya di Surabaya untuk berani bersuara dan berbicara sebagai upaya merawat kesadaran bersama. “Surabaya, Ayo Bicara” menjadi tema utama peringatan 53 Tahun Bengkel Muda Surabaya, yang lahir dari sebuah kegelisahan bersama dan cermin kebutuhan kota untuk kembali melihat ke dalam dirinya sendiri.

“Ini bukan sekadar slogan, tetapi ajakan untuk berani berbicara kritis bagi kota kita sendiri. Maka kami mengundang beragam narasumber untuk berbicara tentang Surabaya dari kacamata yang berbeda-beda,” ungkap Heroe Budiarto, Ketua Bengkel Muda Surabaya (BMS).
Panggung utama di Balai Budaya, Komplek Balai Pemuda Surabaya, sejumlah narasumber diundang untuk menyuarakan pandangan mereka tentang Surabaya. Sejumlah tampilan seni budaya juga disuguhkan selama 2 hari rangkaian peringatan HUT ke 53 Bengkel Muda Surabaya, yaitu pada 10-11 Desember 2025. Masyarakat umum dapat hadir dalam diskusi dan pertunjukan budaya ini, tanpa dipungut biaya alias gratis. Balai Budaya dipilih sebagai lokasi acara karena di tempat inilah jejak kesenian Surabaya banyak tersimpan dan tertuang.
“Kami ingin mengajak semua elemen masyarakat menengok kembali kota ini, dengan cara yang lebih jujur, lebih kritis, dan lebih berani. Dan bagi BMS, rangkaian kegiatan ini ingin memperteguh arti sebuah gerakan, yakni membaca, merespons, dan berbicara,” terang Heroe Budiarto.

“Surabaya, Ayo Bicara” dihadiri para tokoh masyarakat, seperti Puji Karyanto, Freddy H. Istanto, Autar Abdillah, Jarmani, Esthi Susanti Hudiono, Heti Palestina Yunani, Rohmat Djoko Prakosa, Kuncarsono Prasetyo, dan Meimura. Mereka membawakan permenungan tentang budaya dan kesenian di Surabaya, yang dikemasi dalam orasi budaya, monolog, maupun parikan, serta tampilan para anggota BMS berupa musikalisasi puisi, lagu-lagi dari kelas musik, perkusi, dan pertunjukan teater.
Suara untuk Surabaya
Ketua BMS, Heroe Budiarto, dalam orasi budayanya menyoroti sebuah kota di negara maju yang berjalan beriringan bersama seni dan budaya. Namun, realitas kadangkala berbeda dengan keinginan. Masa depan, kata Heroe, bukan hanya milik kota yang sibuk membangun, tetapi harus mampu menghidupkan. Tidak hanya menjadikan kota yang kuat, tetapi juga hangat. Kota yang tidak hanya tumbuh, tetapi juga menginspirasi banyak orang. Tidak hanya memikirkan ruang, tetapi juga merawat jiwa yang ada di dalamnya.
“Karena pada akhirnya, sebuah kota hanya diingat bukan dari tingginya gedung, tetapi dari kedalaman budayanya. Bukan dari luasnya jalan, tetapi dari luasnya hati warganya,” seru Heroe.
Heroe mengajak semua pihak menempatkan seni di kursi yang terhormat, di pusat perencanaan, di ruang keputusan, serta di relung kehidupan sehari-hari, tempat mimpi-mimpi lahir dan tumbuh.

Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga, Puji Karyanto juga membacakan orasi budayanya. Menurutnya, Surabaya bukan sekadar kota dengan karakter yang keras, dengan suara paling kencang dan lantang, tetapi juga merupakan kota yang canggih dalam hal strategi, halus dalam diplomasi, dan jauh melihat masa depan. Puji mengingatkan agar sejarah sebuah kota tidak dibaca secara sempit, karena itu akan ikut menyempitkan karakter kota itu sendiri.
“Ketika karakter menyempit, produk keseniannya ikut tereduksi. Ini sebabnya, seni Surabaya sering tampak keras padahal sejarahnya penuh kecerdasan dan kelenturan,” ujar Puji.
Terdapat begitu banyak label, atau penyebutan bagi Kota Surabaya. Puji menyontohkan identitas Surabaya sebagai kota pahlawan, yang itu benar secara sejarah. Bahkan di era sekarang dimana pariwisata terus dikembangkan, kota ini memiliki label sebagai Sparkling Surabaya. Begitu banyak sebutan lain bagi Kota Surabaya, yaitu kota Bonek, kota pelabuhan, kota literasi, kota ramah anak, kota seribu taman, dan masih banyak lagi. Namun, Surabaya belum menemukan istilah yang mendalam untuk budayanya.
“Kapan terakhir kita menyebut Surabaya dan kebudayaan dalam satu tarikan nafas tanpa ragu. Kota bukan hanya bangunan dan jalan raya, ia juga soal jiwa, soal imajinasi. Surabaya memang kota pemberani, tetapi pemberani saja tidak cukup memangun masa depan, kita memerlukan pemberani yang berimajinasi, yang tidak hanya menolak tetapi mencipta, yang tidak hanya bertahan tetapi melambungkan gagasan,” papar Puji, seraya mempertanyakan adakah ruang bagi tumbuhnya imajinasi.
Ironis lagi, di era modern seperti saat ini, kesenian dan budaya di Surabaya yang dulu pernah ada dan sempat berjaya, kini harus berjuang keras untuk bertahan. Bahkan ada yang sudah tidak mampu bergerak sama sekali.
“Ludruk, ketoprak, tandak, siter, breakdance, kabaret, opera, semuanya pernah hidup di Surabaya. Ada yang bertahan, ada yang megap-megap, ada yang tinggal sebagai pelayanan pertunjukan di minggu pagi,” ujar Puji, yang kadang merasa tersesat di rumah sendiri.
Sebagai kota yang dikenal berwatak keras, Surabaya kata Puji, jangan sampai melupakan kelembutan yang dimilikinya. Melalui seni, kota dapat belajar menangis tanpa merasa malu, tertawa tanpa merasa lupa diri, dan bertanya tanpa merasa takut atau enggan. Budaya harus menjadi cara warga kota untuk membaca kehidupan.
“Kota Surabaya yang dahulu dibangun oleh keberanian, sudah saatnya menanti dibangun oleh imajinasi, oleh tangan yang kuat tapi juga halus, oleh pikiran yang cepat dan dalam,” imbuhnya.
“Semoga Surabaya selalu menyala bukan hanya oleh lampu-lampu jalan, tetapi oleh keberanian untuk bermimpi, kebijaksanaan dalam merawat budaya, dan cinta yang membuat kita pulang bahkan sebelum kaki melangkah,” tutupnya.

Bengkel Muda Surabaya yang dulunya bernama Bengkel Muda-Dewan Kesenian Surabaya, didirikan pada 20 Juni 1972 sebagai organisasi pemuda. Pada 9 Desember 1972, para pemuda seniman Bengkel Muda melakukan aksi “Pawai Solidaritas Keprihatinan Seniman-Seniman Muda Surabaya”. Aksi ini sebagai tanggapan atas krisis pangan nasional akibat merosotnya produksi beras nasional, sehingga banyak warga harus antri untuk mendapatkan beras. Para pemuda anggota Bengkel Muda Surabaya, yang sebelumnya bernama Bengkel Muda-Dewan Kesenian Surabaya, berorasi dan membacakan sajak karya WS Rendra berjudul Doa Orang Lapar di depan rumah Ketua DPRD Provinsi dan Gubernur Jawa Timur kala itu.
Aksi yang berlangsung damai itu berakhir dengan penangkapan para seniman, sehingga mereka ditahan di kantor polisi dan berlanjut di kantor korem selama beberapa bulan. Pasca aksi itu, Dewan Kesenian Surabaya (DKS) menjatuhkan sanksi skorsing terhadap BMS tertanggal 20 Desember 1972, dan sejak saat itu pengurus yang menolak skorsing menyatakan diri terpisah dari DKS secara organisasi. 20 Desember 1972 dipilih menjadi hari ulang tahun Bengkel Muda Surabaya untuk mengingat peristiwa aksi “Pawai Lapar”. (Petrus Riski)

