Gresik – Sebanyak 20 pelaku industri mebel rotan tradisional di Desa Gading Watu, RT 02 RW 03, Peniron Wetan, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik, mengikuti pelatihan produksi mebel rotan menggunakan teknik cetak press dingin berbasis serat kelapa dan resin. Pelatihan dipandu oleh tim dosen dari Petra Christian University (PCU), pada Kamis 11 Desember 2025.
Pelatihan dan pendampingan kepada pengrajin di Desa Gading Watu ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat tahun 2025, yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, untuk membantu keberlangsungan bisnis yang lebih sustainable sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Serat kelapa dipilih sebagai salah satu bahan yang dapat diolah sebagai mebel, karena Indonesia memiliki potensi yang besar melalui limbah sabut kelapa yang melimpah namun kurang dimanfaatkan secara optimal.
“Serat kelapa memiliki sifat mekanis yang baik sebagai material penguat, ramah lingkungan, serta dapat diintegrasikan ke dalam produk kriya berbasis rotan,” ungkap Dr. Adi Santosa, S.Sn., M.A.Arch., selaku Ketua Tim.

Desa Gading Watu, Gresik, dikenal sebagai wilayah industri mebel rotan dengan kerajinan tangan tradisional sejak 1970-an. Industri mebel di Desa Gading berbasis usaha rumah tangga dengan warisan keterampilan secara turun-temurun. Namun, seiring berkembangnya zaman, bisnis mebel di desa itu terdampak berbagai tantangan global, diantaranya persaingan harga, desain yang monoton, teknik produksi yang kurang efisien, keterbatasan teknologi, hingga ketergantungan pada material rotan alami yang ketersediaannya semakin terbatas.
Pengenalan teknologi komposit serat kelapa-resin secara langsung memenuhi SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), dengan mendorong industrialisasi berkelanjutan dan adopsi teknologi baru di sektor industri kecil. Hal ini kemudian memperkuat SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), karena tidak hanya meningkatkan efisiensi dan daya saing mebel rotan, program ini juga membuka peluang kerja yang lebih stabil dan menarik bagi generasi muda dalam industri kriya yang kini lebih adaptif dan modern.
Dalam workshop tersebut, para pengrajin dibimbing dan mempraktikkan secara langsung, mulai dari menyiapkan bahan-bahan, menakar, menata bahan serat kelapa ke dalam cetakan, menuang cairan resin ke cetakan, mengepres, hingga menunggu cetakan kering sekitar 30 menit, dan membongkar cetakan untuk mendapatkan hasil yang sudah jadi.
“Hasil cetakan tersebut dapat diimplementasikan ke desain mebel baru, salah satunya seperti stool (kursi tanpa sandaran),” imbuh Adi Santosa, dosen pada Interior Design PCU, yang menyebut model ini sebagai cara baru yang lebih praktis dalam mengolah bahan alam.

“Inovasi material berbasis potensi lokal tidak hanya membuka dimensi desain baru bagi mebel rotan Nusantara, tapi juga menjadi pendorong strategis untuk memperkuat posisi komunitas pengrajin Gading Watu agar tampil lebih adaptif, berkelanjutan, dan kompetitif di pasar nasional maupun regional,” pungkas Adi.
Sebelum pelatihan berlangsung, 20 pengrajin Desa Gading Watu diberi beberapa materi oleh tiga dosen lainnya, yakni Purnama Esa Dora, S.Sn., M.Sc. (Interior Design PCU), yang memberikan pembekalan awal beserta test, Josua Tarigan, Ph.D., CMA., CSRA. (Accounting PCU), yang menyampaikan pemaparan tentang Manajemen Produksi dan Bisnis, serta Prof. Dr. Juliana Anggono, S.T., M.Sc. (Mechanical Engineering PCU), mengenai Material Komposit Serat Kelapa-Resin. (Petrus Riski)

