Memori Perang yang Menyatukan Tiga Benua, Melalui Kenangan USS Houston

Suasana mengenang USS Houston (Foto: Istimewa)

Langit Houston tampak kelabu pada Sabtu, 7 Maret 2026, siang waktu setempat. Namun suasana hangat justru terasa di Sam Houston Park, Texas. Di taman bersejarah itu, orang-orang berkumpul dengan satu tujuan yang sama, yaitu mengenang.

Alunan musik dari Community Band of Southeast Texas di bawah arahan Jacob McWherter mengalun pelan, menghadirkan nuansa khidmat sekaligus patriotik dalam USS Houston Day of Remembrance. Memorial service yang dimulai pukul 13.30 itu menjadi bagian dari rangkaian Day of Remembrance Weekend yang diselenggarakan oleh USS Houston CA-30 Survivors’ Association & Next Generations.

Bagi mereka yang hadir, seperti keluarga korban, keturunan penyintas, veteran, diplomat, hingga kadet militer, acara ini bukan sekadar seremoni tahunan. Ini terasa seperti sebuah reuni yang hangat dan sangat kekeluargaan. Sebagian peserta saling bertemu kembali setelah setahun berlalu. Sebagian lainnya baru pertama kali berjumpa. Namun suasana akrab segera tercipta di antara mereka yang datang dengan satu tujuan, menjaga ingatan.

Di tengah taman berdiri Monumen USS Houston, karya Jeff Ryan yang menjadi bagian dari Sam Houston Park sejak 1998. Di pusat monumen itu, lonceng kuningan asli kapal ditempatkan di atas pedestal granit yang memuat nama-nama awak kapal. Benda itu diangkat dari bangkai kapal yang tenggelam di Selat Sunda lebih dari delapan dekade lalu. Di hadapan monumen itu, sejarah terasa sangat dekat.

Suasana pertemuan keluarga pada Day of Remembrance Weekend yang diselenggarakan oleh USS Houston CA-30 Survivors’ Association & Next Generations

Ingatan dari Selat Sunda

Kisah USS Houston selalu membawa orang kembali ke awal 1942, masa paling genting dalam Perang Pasifik setelah serangan Pearl Harbor. Dalam situasi perang yang semakin menekan, kapal penjelajah berat Angkatan Laut Amerika Serikat itu berada di garis depan pertempuran.

USS Houston (CA-30), yang dikenal sebagai salah satu kapal favorit Presiden Franklin D. Roosevelt, ikut bertempur bersama pasukan Sekutu, yang terdiri dari Belanda, Inggris, dan Australia, dalam pertempuran Laut Jawa pada akhir Februari 1942. Pertempuran itu berakhir dengan kekalahan besar bagi Sekutu.

Namun, Houston belum berhenti berlayar. Kapal itu bergerak menuju Selat Sunda, di mana pada malam 28 Februari menuju 1 Maret 1942, USS Houston bersama HMAS Perth milik Angkatan Laut Australia menghadapi konvoi invasi Jepang dalam ketimpangan kekuatan yang sangat besar. Pertempuran itu berakhir tragis. Kedua kapal akhirnya tenggelam di perairan yang kini menjadi bagian dari wilayah Indonesia.

Sejak saat itu, Selat Sunda tidak hanya dikenal sebagai jalur laut strategis. Ia juga menjadi makam perang bagi ratusan pelaut yang gugur. Memori itulah yang terus dijaga hingga kini.

Dalam sambutannya, Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo, menegaskan pentingnya menjaga situs sejarah tersebut sebagai bentuk penghormatan kepada mereka yang gugur.

“Menjadi tanggung jawab kita bersama, sebagai bangsa Amerika dan Indonesia, untuk melindungi dan menjaga makam perang bawah laut ini dengan penghormatan yang semestinya,” ucap Indroyono di hadapan para hadirin.

Ia menambahkan bahwa para pelaut yang gugur dalam pertempuran tersebut tidak hanya menjadi bagian dari sejarah satu negara. “Mereka adalah pahlawan bukan hanya bagi bangsa Amerika, tetapi bagi semua orang yang menjunjung kebebasan dan keadilan,” imbuhnya.

Ucapan itu terasa kuat di tengah kehadiran keluarga korban, keturunan penyintas, veteran militer, serta berbagai perwakilan negara yang memiliki hubungan sejarah dengan pertempuran itu.

Diplomasi Ingatan Lintas Bangsa

Kehadiran berbagai negara dalam memorial service itu memperlihatkan bagaimana sebuah peristiwa sejarah dapat menyatukan banyak pihak.

Delegasi Indonesia dipimpin langsung oleh Duta Besar Indroyono Soesilo bersama Atase Ekonomi Pangeran Ibrani, dan Atase Laut Kolonel Yudi Adrian dari Washington, D.C. Dari Houston, Indonesia diwakili oleh Konsul Jenderal Republik Indonesia Ourina Ritonga bersama Suri Tauchid Ishak dan Indira Vita Ariesia.

Komunitas diaspora Indonesia juga turut hadir melalui Ari Sufiati dan Dian Widhi, co-founder Indonesia Lighthouse. Bagi Ari Sufiati, kehadiran diaspora Indonesia dalam acara tersebut memiliki makna tersendiri.

“Bagi diaspora Indonesia, peringatan ini bukan hanya tentang sejarah militer, tetapi tentang bagaimana ingatan lintas bangsa terus dijaga bersama. Selat Sunda mungkin jauh dari Houston, tetapi kisahnya tetap hidup di sini,” ungkap Ari.

Australia diwakili oleh Drew Dainer dari Konsulat Jenderal Australia di Houston, dan Commander Rachel Atherfold dari Royal Australian Navy. Dari Inggris, Commander David Brannighan dari Royal Navy membacakan Ode, yang ditutup dengan kalimat sederhana namun kuat: We will remember them.

Perwakilan Belanda juga hadir diwakili Aura Cuellar dan Commander Simon Gunneweg, mengingatkan bahwa kampanye militer di Hindia Belanda juga merupakan bagian penting dari sejarah mereka. Sementara dari pihak Amerika Serikat, Rear Admiral Samuel J. Cox (Purn.) turut hadir sebagai bentuk penghormatan institusi militer terhadap sejarah tersebut.

Kehadiran berbagai pihak itu memperlihatkan bahwa kisah USS Houston bukan hanya milik satu negara, melainkan bagian dari memori kolektif lintas generasi dan lintas batas.

Di antara para tamu yang hadir, salah satu sosok yang paling menyentuh perhatian adalah Donna Flynn. Pada usia 98 tahun, istri almarhum David Flynn, seorang penyintas USS Houston, datang dengan semangat yang luar biasa. Ia berkali-kali menyampaikan rasa terima kasih kepada pemerintah Indonesia, khususnya TNI Angkatan Laut, yang selama ini menjaga lokasi bangkai kapal tersebut.

Di tengah suasana yang penuh kenangan, Donna bahkan sempat bercerita tentang masa mudanya sebagai penari hula dan memperagakan beberapa gerakan sederhana. Momen kecil itu membuat suasana yang khidmat berubah menjadi hangat dan penuh senyum. Seolah mengingatkan bahwa di balik cerita perang dan kehilangan, kehidupan tetap berjalan.

Setelah upacara selesai, jejak ingatan tentang USS Houston juga terlihat di kantor Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Houston. Di salah satu sudut ruangan terdapat miniatur kapal USS Houston dan sejumlah foto bersejarah. Sederhana, tetapi sarat makna.

Dalam kisah yang sering diceritakan melalui strategi militer dan pertempuran laut, benda-benda kecil seperti itu justru menghadirkan kedekatan yang lebih personal. Selat Sunda mungkin berada ribuan kilometer dari Houston. Namun selama delapan puluh empat tahun terakhir, ingatan tentangnya terus menjembatani jarak itu.

Pada akhirnya, yang dijaga bukan sekadar nama kapal atau tanggal pertempuran. Yang dirawat adalah penghormatan bagi mereka yang gugur. Dan di Sam Houston Park pada siang yang kelabu itu, penghormatan tersebut terasa sangat hidup, dalam musik, dalam pertemuan, dan dalam kesediaan banyak orang untuk datang, berdiri, dan mengingat bersama.

Penulis: Asvin Ellyana

Editor: Petrus Riski

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *