Komite Perekat Persaudaraan Maluku di Jawa Timur Diresmikan

Surabaya – Ketua Umum Komite Perekat Persaudaraan Maluku (KPPM) melantik pengurus Komite Perekat Persaudaraan Maluku (KPPM) Jawa Timur, Sabtu (17/01/20216), di Hotel Kyrie, Surabaya. Pembentukan komite di Jawa Timur ini bertujuan untuk semakin mempererat persaudaraan yang harmonis dan kerukunan antara warga Maluku di perantauan, khususnya di Jawa Timur.

Frans Huwae, ketua Umum KPPM 2025-2030, mengatakan pembentukan komite dan pelantikan pengurus di Jawa Timur ini untuk memberikan wadah bagi orang-orang Maluku agar memperkuat semangat Pattimura, dan melanjutkan perjuangan para pahlawan untuk kebaikan seluruh warga masyarakat di Jawa Timur. Hadir warga Maluku di Jawa Timur, baik yang beragama Islam maupun Kristen. Beberapa tokoh yang hadir antara lain Prof. Dr. Paul Tahalele, Prof Hatane, dan Prof Burhan, yang menyemangati semua yang hadir untuk terus melakukan yang terbaik dalam hidup.

Prosesi pelantikan ini diawali perarakan Tari Lenso, yang dibawakan oleh para penari muda Maluku, sebagai sambutan dan penghormatan terhadap para tamu undangan yang hadir. Selanjutnya dibacakan surat cinta dari Bang Basri Latuconsina, yang diiringi dengan musik dan lagu Gandonge yang penuh semangat.

Acara juga dimeriahkan dengan lomba makan Papeda dengan cepat. Papeda adalah makanan khas yang terbuat dari sagu yang diolah menjadi seperti bubur. Menu ini dilengkapi dengan kuwah Colo-colo Ikan Cakalang, yang dapat dinikmati untuk 5 orang atau lebih.

Paul Tahalele sebagai pembina KPPM, mengatakan pelantikan dewan pengurus KPPM Jawa Timur ini diharapkan dapat mempererat persaudaraan antarwarga Maluku, terlebih untuk menguatkan kontribusi warga Maluku bagi pembangunan Jawa Timur dan Indonesia.

“Bangsa Maluku berasal dari 3 suku, yaitu Melanesia, Austronesia dan Papua. Melanesia ini sama seperti dari suku di kepulauan Hawaii. Kemudian datang bangsa Portugis, Belanda, Arab dan Tionghoa,” ujarnya.

Maluku berasal dari kata Kie dan Raha, yang artinya tanah raja-raja kecil. Ini merupakan sebutan saudagar Arab untuk Kepulauan Maluku di Indonesia. Di sana terdapat banyak kerajaan lokal yang berpengaruh, seperti Ternate, Tidore, Jailolo, dan Bacan yang terkenal dengan rempah-rempahnya.

Maluku dikenal dengan daerah yang kaya akan rempah-rempah, memiliki gugusan kepulauan yang indah, dan memiliki budaya yang beragam, mulai dari musik, tarian dan berbagai kesenian lainnya. Sebagai contoh tarian Cakalele, tarian Saureka, dan tarian Poloneis.

Pattimura merupakan pahlawan asal Maluku yang berperan besar dalam upaya membebaskan Maluku dari penjajahan bangsa asing. Perjuangan Pattimura juga dibantu oleh pejuang-pejuang lainnya, seperti Anthoni Rebhok, Philips Latumahina, Ulupaha, Melchior Tasalauia, dan Martha Kristina Tiahahu.

Perjuangan Pattimura dan para pahlawan Maluku lainnya, harus menjadi teladan dan semangat bagi warga Maluku untuk keluar dari berbagai persoalan hidup, khususnya kemiskinan dan pendidikan.

“Maluku saat ini di urutan ke 33 termiskin di Indonesia, sedangkan pendidikan juga di urutan ke-33 dari 38 provinsi di Indonesia. Maka sudah saatnya membangun Maluku, dan memenuhi kebutuhan pangan bagi warga. Mulai gubernur sampai jajaran di bawahnya harus memperhatikan hal ini,” ujar Paul.

Keguatan ini juga dihadiri oleh perwakilan DPD Maluku yaitu Bisri Lattuconsina, dan Lia Istifhama, perwakilan DPD Jawa Timur. Bisri Latuconsina, mengatakan pembentukan KPPM di Jawa Timur ini diharapkan semakin memperkuat tali persaudaraan dan silahturahmi dengan sesama orang Maluku di mana pun berada.

“Dengan adanya KPPM ini, maka semangat persaudaraan dan persahabatan untuk terus bergerak bersama dalam memajukan Maluku ke arah yang lebih baik harus terus digaungkan, khususnya bagi warga di perantauan,” tutur Bisri. (Petrus Riski)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *