Ancaman Mikroplastik di Semua Sendi Kehidupan

Bentuk mikroskop yang ditampilkan dari mikroskop hasil sample saluran pembuangan limbah di sungai Surabaya, hasil penelitian Ecoton (Foto: Petrus Riski)

Surabaya – Ancaman mikroplastik semakin nyata dan mengkhawatirkan. Penelitian Ecoton sejak 2017 hingga kini telah mendeteksi temuan mikroplastik pada setiap aktivitas kehidupan, termasuk dalam organ tubuh manusia. Masuknya mikroplastik ke dalam darah dinilai sangat mengkhawatirkan karena membahayakan kesehatan manusia terutama organ-organ vital, yang dapat berpengaruh pada kesehatan masyarakat di masa mendatang.

“Riset mikroplastik Ecoton sejak 2017 hingga kini, mendeteksi adanya mikroplastik dalam feses, air susu ibu, air seni, ketuban, dan dalam darah perempuan,” kata Sofi Azilan Aini, peneliti Ecoton.

Pemakaian plastik sekali pakai hingga menjadi sampah dan tanpa pengolahan yang seharusnya, menjadikan limbah yang sulit terurai di alam ini berbahaya bagi tubuh manusia. Saat ini, penduduk Indonesia merupakan konsumen mikroplastik terbanyak di dunia, yaitu 15 gram per-bulan. Sekaligus negara penyumbang sampah plastik di lautan global urutan ketiga setelah India dan Nigeria.

“Ini karena kebiasaan membakar sampah dan membuang sampah ke sungai, sehingga sungai, udara dan air hujan turut tercemar mikroplastik,” imbuhnya.

Tempat pembuangan dan pembakaran sampah plastik secara terbuka di Sidoarjo (Foto: Petrus Riski)

Deteksi mikroplastik telah dilakukan Ecoton bekerjasama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, khususnya pada perempuan di Gresik. Hasilnya, ditemukan adanya mikroplastik pada perempuan di Gresik yang menjadi sample, dengan jumlah partikel 2-18 partikel/ml. Seluruh partikel yang terdeteksi dipastikan berukuran lebih besar dari 0,45 µm.

“Jenis mikroplastik yang ditemukan adalah Fiber dan Fragmen. Analisis polimer yang telah dilakukan pada 5 sampel menunjukkan keberadaan polyethylene (PE) pada 4 sampel dan poly (n-butyl methacrylate) (PBMA) pada 1 sampel. PE merupakan polimer yang banyak digunakan dalam kemasan plastik, sedangkan PBMA umum digunakan pada pelapis, perekat, dan aplikasi tertentu termasuk biomedis,” terang Sofi.

Pengujian juga dilakukan terhadap 42 amnion atau air ketuban ibu yang melahirkan di Gresik. Hasilnya 100 persen terdapat mikroplastik, dengan jenis polimer yang mendominasi yaitu Polyethylene. Rahim yang dianggap sebagai tempat paling aman bagi manusia, ternyata tidak terbebas dari mikroplastik.

“Itu berasal dari botol plastik air minum dalam kemasan, plastik bening wadah makanan panas, tas kresek, gelas plastik,” ujar Rafika Aprilianti, selaku Kepala Laboratorium Mikroplastik Ecoton.

Riset Ecoton bekerjasama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga dan Woonjin Institut, juga menyimpulkan kebiasaan menggunakan plastik sekali pakai untuk wadah makanan dan minuman, meningkatkan resiko paparan mikroplastik dalam tubuh. Hal ini terjadi karena ada korelasi antara keberadaan mikroplastik dengan meningkatnya nilai Malondialdehide (MDA) penanda peradangan (inflamasi), dan meningkatnya peradangan menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan calon bayi dapat terganggu.

“Ditemukannya mikroplastik dalam ketuban ini akan berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan bayi,” ungkap Rafika,

Daru Setyorini, Direktur Eksekutif ECOTON, saat melakukan aksi di BBPOM Surabaya menuntut pemeriksaan produk kosmetik dan perawatan diri karena diduga mengandung mikroplastik (Foto: Petrus Riski)

Sementara itu, temuan hasil penelitian kolaboratif antara Greenpeace dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada Maret 2025, keberadaan mikroplastik juga terdeteksi pada jaringan otak manusia, yang diduga berpotensi mengganggu fungsi saraf dan berisiko menurunkan kemampuan kognitif secara bertahap, akibat paparan partikel asing dan zat kimia toksik yang dibawanya.

Penelitian ini merujuk pada riset di New Meksiko 2024 yang mengungkapkan terjadinya penumpukkan mikroplastik (ukuran di bawah 5 mm) dan nanoplastik (1-1000 nanometer) menumpuk di otak manusia dengan konsentrasi yang jauh lebih tinggi, sekitar 7-30 kali lipa, dibandingkan pada organ hati dan ginjal.

Konsentrasi plastik pada sampel otak tahun 2024 ditemukan meningkat hingga 50 persen dibandingkan sampel dari tahun 2016. Matthew Campen, profesor ilmu farmasi dari University of New Mexico, menyebut fenomena ini sebagai cerminan dari penumpukan lingkungan yang semakin ekstrem, mengingat produksi plastik global kini melampaui 300 juta ton per-tahun dengan 2,5 juta ton di antaranya mengapung di lautan.

“Plastik tidak seharusnya berada dalam tubuh manusia, namun faktanya remahan kecil plastik telah masuk kedalam rahim,” kata Rafika.

Langkah pencegahan menurut Sofi, dapat dilakukan dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menghindari kontak langsung dengan udara yang saat ini telah terkontaminasi mikroplastik.

“Sebagai gen Z kita harus mau menghindari produk kosmetik yang mengandung scrub plastik, karena mikroplastik bisa masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan, melalui mulut dan melalui kulit” ungkap Sofi Azilan.

Belajar dari Tragedi TPA Leuwigajah

Dua puluh tahun lebih sejak tragedi longsornya TPA Leuwigajah di Cimahi, Jawa Barat, pada 21 Februari 2005, hingga menewaskan 157 jiwa, Indonesia masih belum belajar dari kesalahan. Malahan, persoalan sampah masih berkutat pada besarnya volume sampah, ketergantungan pada open dumping, lemahnya pengelolaan di hulu, dan ketidak mampuan pemerintah dalam menertibkan perilaku masyarakat yang abai terhadap kelestarian lingkungan. Peristiwa ini kemudian menjadi landasan penerapan hari peduli sampah Nasional (HPSN) oleh pemerintah.

Lokasi open dumping sampah pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jabon, Sidoarjo(Foto Petrus Riski)

Data dari Sistem Informasi Pengolahan Sampah Nasional (SIPSN) pada 2023, menyebutkan timbunan sampah nasional telah mencapai 31,9 juta ton, dengan 11,3 juta ton di antaranya tidak terkelola, dan lebih dari 7,8 juta ton merupakan sampah plastik. Sebagian besar dari sampah plastik itu disebutkan belum tertangani secara layak. Sebagian besar dikelola dengan cara dibakar (57 persen), dibuang sembarangan, atau penimbunan tanpa pengolahan memadai.

Secara khusus, di wilayah Jawa Timur juga menghadapi persoalan yang sama, yakni tingginya kontribusi sampah plastik terhadap total timbulan sampah harian. Kondisi ini berpotensi meningkatkan paparan mikroplastik pada manusia. (Petrus Riski)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *