Surabaya – Tumpukan daun mangga hasil pampasan terkumpul di halaman Rumah Kompos Pondok Manggala RW 05, Balas Klumprik, Surabaya. Seorang warga berkerja mencacah daun dan ranting muda menjadi ukuran kecil-kecil menggunakan mesin pencacah. Cacahan daun hijau berukuran kurang dari 1 cm ini kemudian ditumpuk di bagian tengah halaman, dan dicampur dengan sampah sisa makanan atau sampah organik dari limbah rumah tangga yang telah dikumpulkan dalam sejumlah tong yang tertutup.
Okky Harimurti, Koordinator Rumah Kompos Pondok Manggala RW 05, Balas Klumprik, mengatakan aktivitas rumah kompos di kampungnya sudah berjalan sejak Oktober 2025. Rumah kompos ini dibangun atas bantuan dana tanggung jawab sosial lingkungan PLN Peduli, setelah wilayahnya memenangkan lomba kebersihan tingkat kota.
“Materialnya adalah sampah dapur, kemudian kita kumpulkan lalu diolah bersama dengan ranting dan daun pohon yang dipangkas di sekitar lingkungan rumah warga,” kata Okky Harimurti.

Praktik pembuatan kompos menggunakan metode aerasi, kata Okky, merupakan pengembangan dari teknologi Takakura. Bahan yang digunakan adalah pencampuran antara dedaunan hijau dengan sampah organik sisa makanan dari rumah warga. Perbandingannya satu takar sampah organik sisa makanan, dab satu takar bahan organik dari dedaunan.
Setelah diberi cairan eco enzym, semua bahan dicampur menjadi satu hingga merata. Sebatang bambu berukuran sedang dengan beberapa lubang di bagian sisi bambu kemudian ditancapkan di bagian tengah gundukan. Itulah metode aerasi yang digunakan untuk membuat kompos dari sampah organik.
“Dari bambu berongga itu kita blower dengan angin, untuk mengeluarkan uapnya yang ada di dalam tumpukan, dan mikroorganisme,” terang Okky.
Setelah semua proses pencampuran itu dilakukan, sampah organik yang tercampur itu hanya perlu didiamkan selama seminggu, sebelum dipanen sebagai pupuk kompos maupun media tanam. Proses ini, menurut Okky, jauh lebih cepat dibandingkan hanya menumpuk dalam wadah tanpa pengolahan apa pun.
“Jadi, waktunya lebih singkat, seminggu sudah bisa dipanen. Kalau di tempat biasa, itu bisa 3 sampai 6 bulan. Kompos ini nantinya bisa digunakan menjadi pupuk atau media tanam yang dapat dipakai kelompok tani,” lanjutnya.
Okky mengungkapkan, Rumah Kompos Pondok Manggala RW 05 mampu mengolah sampah organik dari warga hingga 250 kg untuk satu kali produksi. Bahkan untuk bulan Desember 2025 lalu, Rumah Kompos Pondok Manggala RW 05 memperoduksi 300-400 kg sampah organik.
“Jadi, sekarang ini minimal kita bisa mengolah 1 Ton sampah organik dalam satu bulan, semuanya sampah yang dihasilkan warga di RW 05 Balas Klumprik,” lanjut Okky.
Dari sampah organik yang dikelola melalui di rumah kompos, dapat dihasilkan beberapa produk yang memiliki nilai manfaat. Selain menghasilkan pupuk kompos, sampah organik yang terkumpul dan dikelola di rumah kompos dapat dijadikan eco enzym, bahkan sampah sisa makanan yang dikumpulkan mampu mengundang lalat black soldier fly (BSF) dan menghasilkan larva atau maggot yang membantu memakan sampah organik. BSF diketahui mampu mengurangi volume sampah organik hingga 80 persen.
“Kami tidak tahu ternyata ada black soldier fly (BSF) dan ada maggot di dalam tong penampungan sampah organik di rumah kompos ini,” ujar Okky.
Selain mengurangi volume sampah organik sisa makanan, maggot yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk tambahan protein pakan ikan yang dikelola warga. Sampah organik dari sisa makanan dan sayuran, juga dioptimalkan sebagai pakan ayam yang saat ini semakin berkembang jumlahnya. Metode pengurangan sampah dengan pemilahan dan pengolahan mulai dari sumber ini, diakui sangat efektif oleh Okky, untuk mengurangi volume sampah yang biasanya dikirim ke tempat penampungan akhir sampah.

Pengolahan sampah oleh warga RW 05 Balas Klumprik juga memisahkan sampah anorganik seperti plastik, kardus, katon, kertas, kaca atau botol, besi, alumuniun, yang dikumpulkan dan dipilah oleh Bank Sampah Cendikia Arutala, yang terletak di samping Rumah Kompos Pondok Manggala.
“Kami mulai beroperasi mulai 2023. Kita menerima sampah-sampah yang bisa didaur ulang, tapi sampah yang terpilah sudah dalam keadaan bersih agar nilai ekonomisnya bisa lebih tinggi. Totalnya ada 34 item,” kata Okky.
Pemilahan sampah anorganik yang dijual kepada pengepul, dirasakan dampaknya oleh warga karena sampah dapat dikurangi dan menghasilkan uang. Hasil penjualan sampah anorganik yang terkumpul setiap bulannya dapat digunakan untuk operasional bank sampah, maupun membiayai beberapa kebutuhan kampung terkait kebersihan.
Di Indonesia, termasuk Surabaya, sampah organik dan sisa makanan menjadi jenis sampah terbanyak yang dibuang warga, dibandingkan jenis sampah yang lain. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, mencatat terdapat 1.800 Ton sampah organik dan anorganik yang dihasilkan Kota Surabaya setiap harinya.
Khusus untuk mengolah sampah organik, DLH Surabaya mengoperasikan 27 rumah kompos yang tersebar di berbagai wilayah, dengan kapasitas total pengolahan mencapai 95,17 Ton sampah per-hari. Bagi DLH Kota Surabaya, kompos yang dihasilkan dari pengolahan sampah organik sangat membantu mengurangi belanja pupuk untuk taman dan pemeliharaan ruang terbuka hijau di Surabaya.
“Jadi, untuk sampah organik di Kota Surabaya, kita sekarang telah memiliki kurang lebih 27 rumah kompos, sehingga belanja pupuk dapat dikurangi,” kata Dedik Irianto, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya.
Dedik menambahkan, keberadaan 27 rumah kompos ini dapat menghemat biaya pengangkutan sampah hingga Rp. 6,73 Miliar per-tahun, sekaligus menghemat biaya pengolahan sampah di TPA Benowo hingga Rp7,36 Miliar per-tahun. (Petrus Riski)

