Jakarta – “Muda dan bermakna, itu yang membedakan kualitas masing-masing orang muda. Dan ini soal pilihan!”. Begitu tulis Bayu Wardhana, Sekretaris Jenderal Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, dalam catatan belakang buku “Muda, Beda, Ah Itu Biasa!”. Sebuah kalimat yang menjadi pengantar tepat bagi semangat buku yang resmi diluncurkan pada 29 November 2025 di Diskursus Center Office, Pejaten Raya, Jakarta Selatan.
Buku ini merupakan bunga rampai gagasan 18 penulis muda lintas kota di Pulau Jawa, yaitu Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, dan Surabaya. Karya ini lahir dari rangkaian proses pelatihan jurnalisme berperspektif multikultural, yang diselenggarakan komunitas Agenda 18 berkolaborasi dengan AJI di tiap kota sebagai mentor penulisan dan pendamping kunjungan komunitas.
Gagasan diselenggarakannya pelatihan ini berangkat dari kesadaran bahwa multikulturalisme bukan hanya fakta terberi tentang Indonesia, tetapi juga sebuah tantangan dinamis yang memerlukan literasi dan kepekaan untuk dapat meresponnya dengan tepat. Penerimaan begitu saja atas multikulturalisme berisiko menimbulkan ketimpangan dan mewariskan ketidakadilan bagi generasi-generasi mendatang.
Sebelum menulis buku ini, para peserta pelatihan bukan hanya belajar keterampilan jurnalistik, tetapi juga melakukan kunjungan langsung dengan berbagai kelompok pendamping masyarakat, melalui dialog dengan penyedia layanan korban kekerasan; berbincang dengan keluarga pengasuh orang dengan penyakit kronis (cerebral palsy, skizofrenia); belajar dari jaringan lintas keyakinan dan keragaman gender; serta bertemu dengan komunitas perawat seni lokal dan pemerhati isu perkotaan.
Pengalaman-pengalaman inilah yang membentuk sudut pandang para penulis muda, sehingga setiap tulisan dalam buku ini bukan hanya pengamatan atas realita, tetapi juga refleksi.
Walau sama-sama berada dalam rentang usia 15-30 tahun, kategori orang muda menurut Badan Pusat Statistik (BPS), para penulis datang dari keragaman latar lainnya. Salah satu penulis perempuan berlatar Ilmu Hukum menulis tentang ketimpangan akses di pesisir menggunakan istilah otentik “minoritas geografis”, sebagai hasil menganalisis komik Si Juki.
Penulis lain, laki-laki lulusan Ilmu Politik, mengangkat urgensi pendidikan seksualitas di sekolah sebagai upaya mengurangi kekerasan terhadap perempuan. Ada pula siswi SMA, penulis termuda, yang menuangkan kegelisahannya melalui puisi.

Setiap tulisan memperlihatkan bagaimana anak muda memandang isu multikultural bukan sebagai konsep belaka, tetapi sebagai realitas hidup yang membuat mereka gelisah karena mereka peduli dengan masa depan bangsanya.
Dalam kata pengantar, Maulida Sri Handayani, pengajar Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan, menegaskan buku ini mematahkan stereotipe “generasi cemas”. Menurutnya “muda-mudi ‘generasi cemas’ ini mereklaim cap itu dan menjadikan cemas sebagai kata kerja. Mereka bercemas tak hanya soal diri mereka, tetapi juga soal dunia yang mereka hidupi, ruang yang mereka tinggali, dan sesama manusia yang mereka temui. Inilah potret orang muda yang tidak hanya resah, tetapi juga mengambil tindakan melalui tulisan.
Dalam peluncuran buku, Taufik Basari, pendiri Diskursus Network and Ecosystem, menyampaikan bahwa buku ini mengajak kita melihat “perbedaan” bukan sebagai keanehan, melainkan sebagai kenyataan hidup yang perlu dirayakan.
Sementara itu, Ignatius Haryanto, salah satu pendiri komunitas Agenda 18 sekaligus Kepala Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara, berharap penerbitan buku ini menjadi langkah awal bagi gerakan muda yang terus tumbuh, bergerak, dan memberi makna bagi tanah airnya.
Penulis: Stella Anjani
Editor: Petrus Riski

