Surabaya – Wayang telah menjadi warisan budaya dunia tak benda asal Indonesia, yang keberadaannya diakui oleh dunia melalui UNESCO. Wayang juga menjadi sarana menyampaikan pesan-pesan moral yang menjadi petuah serta pelajaran bagi hidup manusia. Melalui wayang pula, pengajaran dapat diberikan dengan menyenangkan kepada siswa didik di sekolah.
Pembelajaran membuat Wayang shadow puppet menjadi cara belajar menyenangkan yang dilakukan di SDK St. Aloysius Surabaya. Para siswa diajak membuat kreativitas berupa wayang kertas, sebagai media pembelajaran yang menarik di kelas. Kolaborasi pelajaran Seni Rupa dengan Bahasa Jawa dapat dilakukan melalui media Wayang sederhana ini.
Wali Kelas IV B, Rissa Patriasari, mengatakan aktivitas ini dilakukan dalam rangka pemenuhan tugas mata pelajaran Seni Rupa, dalam bentuk wayang sederhana, serta pelajaran Bahasa Jawa melalui percakapan menggunakan bahasa Jawa saat pementasan wayang.
“Cerita yang diangkat tentang Ramayana, anak-anak membuat karakter pewayangan Ramayana, seperti Rama, Shinta, Hanoman, Rahwana, dan sebagainya,” kata Rissa Patriasari, Kamis (30/4/2026).

Selain kelas IV B, aktivitas yang sama juga dilakukan siswa di kelas IV A, dengan total siswa sebanyak 39 orang. Setelah seluruh karakter tokoh pewayangan Ramayana, siswa dalam setiap kelompok kemudian menampilkan cerita pewayangan itu di depan kelas menggunakan bahasa Jawa.
“Pelajaran ini mempunyai makna agar siswa dapat semakin kreatif, serta mampu menggunakan unggah-ungguh basa, atau tata krama dalam berbahasa,” ujar Rissa.
Pembelajaran ini juga tidak dapat dilepaskan dari peran dan dukungan orang tua, yang turut membimbing anak-anak di rumah agar pelajaran yang diberikan di sekolah lebih efektif. Melalui pembelajaran ini, anak-anak diharapkan turut serta melestarikan budaya daerah, untuk memperkaya khasanah pengetahuan serta kecintaan terhadap tanah air dan bangsa.
“Dengan demikian siswa dapat menghargai nilai luhur kearifan lokal sesuai dengan integrasi pelajaran IPAS di kelas IV ini, yaitu keberagaman budaya dan kearifan lokal,” imbuhnya.
Harapan yang senada juga diungkapkan Wali Kelas IV A, Katarina Septiana Kusumawati. Melalui pembelajaran membuat wayang shadow puppet ini, siswa didik dapat belajar dengan seru dan menyenangkan, sekaligus melatih anak untuk berani menampilkan karya dan kreativitasnya.
“Melalui pembelajaran ini, diharapkan dapat melatih siswa menjadi lebih berani berekspresi untuk mempresentasikan hasil karyanya di depan kelas,” pungkas Katarina. (Petrus Riski)

