Mahasiswa Universitas Airlangga melaksanakan program BBK 5 (Belajar Bersama Komunitas) di Desa Abar-Abir, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, pada 7 Januari hingga 3 Februari 2025. Salah satu kegiatan utama yang dilakukan pada 24 Januari 2025 adalah pelatihan pengolahan minyak jelantah menjadi produk ramah lingkungan berupa sabun cuci piring. Minyak jelantah, yakni minyak goreng bekas yang telah digunakan lebih dari dua atau tiga kali penggorengan, tergolong limbah karena mengandung senyawa karsinogenik yang berbahaya dan berpotensi mencemari lingkungan.

Penanggung jawab dalam kegiatan tersebut, Sherly Devita menyampaikan bahwa tujuan dari pengolahan minyak jelantah menjadi sabun cuci piring ini untuk mengatasi pembuangan minyak jelantah secara sembarangan, yang dapat merusak ekosistem lingkungan. Proses pengolahan minyak jelantah dimulai dengan memurnikan minyak menggunakan bleaching earth dan menyaringnya menggunakan kertas saring. Hal ini bertujuan untuk memisahkan endapan pengotor agar menghasilkan minyak yang murni. Selanjutnya, minyak yang telah dimurnikan ditambahkan KOH (kalium hidroksida) dan diaduk hingga mengental. Setelah itu, campuran diberi air panas dan air garam untuk menghasilkan tekstur seperti sabun cair. Tahap terakhir adalah penambahan pewarna agar lebih menarik dan essential oil untuk memberikan aroma wangi. Dengan langkah-langkah ini, minyak jelantah berhasil diolah menjadi sabun cuci piring ramah lingkungan.

Hasil sabun cuci piring tersebut secara langsung dicoba oleh ibu-ibu PKK untuk mencuci piring yang kotor dan hasilnya sangat memuaskan sehingga dari sini diharapkan dengan adanya penyuluhan ini dapat membantu para warga desa Abar-Abir untuk mengolah minyak jelantah dengan baik dan benar.
Respon masyarakat Abar-Abir, khususnya ibu-ibu PKK yang mengikuti kegiatan ini, sangatlah positif. Mereka merasa senang karena melalui kegiatan ini mereka jadi mengetahui bahwa minyak jelantah yang biasanya dibuang atau dijual kembali ternyata dapat diolah menjadi produk sabun cuci piring alami yang memiliki nilai jual.
Ibu Eka, salah satu warga desa yang hadir, menyampaikan apresiasinya terhadap program ini.
“Kami sangat berterima kasih kepada mahasiswa BBK UNAIR yang telah berbagi ilmu dan keterampilan kepada warga. Pelatihan ini memberikan banyak manfaat dan semoga bisa mendorong masyarakat desa untuk lebih kreatif dalam memanfaatkan limbah rumah tangga,” ujarnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Mbak Indah, seorang perangkat desa muda yang turut hadir dan berpartisipasi dalam praktik kegiatan.
“Sosialisasi seperti ini sangat bermanfaat, terutama bagi generasi muda. Dengan adanya kegiatan mengolah minyak jelantah menjadi sabun cuci piring, kami jadi lebih paham bagaimana memanfaatkan limbah rumah tangga dengan cara yang kreatif sekaligus bernilai ekonomis. Semoga program ini dapat terus berlanjut dan memberikan dampak yang lebih besar bagi masyarakat,” tambahnya.
Selain penyuluhan mengenai pengolahan minyak jelantah menjadi sabun cuci piring, mahasiswa BBK 5 Abar-Abir juga melaksanakan kegiatan lain, seperti sosialisasi pembayaran digital QRIS, penyuluhan pencegahan penyakit ISPA, sosialisasi anti-bullying untuk anak sekolah dasar dan madrasah, les malam untuk anak sekolah dasar dan madrasah, posyandu balita, remaja, dan lansia, pengolahan sampah plastik menjadi tempat pensil, serta sosialisasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) melalui praktik mencuci tangan yang baik dan benar untuk anak sekolah dan madrasah.
Melalui serangkaian kegiatan ini, tim mahasiswa BBK 5 Abar-Abir berharap dapat memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat Desa Abar-Abir, tidak hanya dalam meningkatkan kesadaran lingkungan, tetapi juga memberdayakan warga untuk lebih kreatif dan mandiri. Mereka berharap agar program-program ini dapat terus memberikan manfaat berkelanjutan dan menjadi inspirasi bagi komunitas lainnya untuk bersama-sama menciptakan perubahan positif di masyarakat.
Penulis : Mira Triharini

