Surabaya – Para pemuda dewasa ini yang sebagian besar adalah Generasi Z menghadapi tantangan besar dalam membeli rumah karena harga properti dan biaya hidup yang tinggi. Sebagian bahkan merasa pesimis dan mengasumsikan investasi properti seperti membeli rumah adalah hal yang tidak terjangkau. Padahal banyak Langkah-langkah yang mereka bisa persiapkan mulai sekarang agar dimasa depan lebih mudah dan strategis dalam membeli properti.
Hal ini yang mendorong kegiatan pengabdian masyarakat mandiri dari Moch.Yunus dan M.Ayub Mirdad yang keduanya adalah dosen Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Airlangga Surabaya dengan tema “Literasi Investasi Properti bagi Pemuda” bertempat di J-Chicken, Mulyosari, Kota Surabaya pada 20 Desember 2025.
“Memang saat ini mereka belum memiliki kemampuan finansial untuk membeli properti namun sedari dini para pemuda memerlukan literasi properti yang cukup sehingga dimasa datang dapat menyiapkan strategi finansial yang memadai.” kata Moch.Yunus.
Ia melanjutkan bahwa mulai sekarang, para pemuda mulai menetapkan target tabungan yang jelas, membuat rencana anggaran realistis. Perlu juga memahami cara meningkatkan penghasilan seperti pekerjaan sampingan atau investasi ringan untuk mempercepat dana awal uang muka. Sementara M.Ayub Mirdad menambahkan bahwa pemilihan lokasi yang lebih terjangkau dan pemahaman tentang suku bunga serta KPR membantu mereka membuat keputusan yang bijak.
“Pola pikir Gen Z yang pragmatis dan disiplin finansial ini merupakan kunci untuk menghadapi realitas pasar properti saat ini.” ujar Ayup

Literasi properti adalah keterampilan penting yang harus dimiliki pemuda di era modern. Bukan sekadar paham istilah rumah atau tanah, literasi properti membantu generasi muda memahami bagaimana pasar properti bekerja, bagaimana mengelola aspek finansial seperti kredit dan budgeting, serta bagaimana menilai risiko dan peluang investasi. Dengan literasi ini, pemuda tidak hanya membuat keputusan berdasarkan emosi atau tren, tetapi berdasarkan informasi yang matang dan analisis logis.
Salah satu peserta, Theresia Vanya mengaku literasi properti penting untuk mengurangi kesalahan finansial dan mempersiapkan masa depan yang lebih stabil dan berdaya.
“Saya tidak membayangkan sebagian besar penghasilan saya dihabiskan untuk mengontrak rumah. Perlu persiapan matang dan pengetahuan yang cukup karena investasi properti adalah keputusan besar dan berisiko jangka panjang kalau salah langkah.” ujarnya.
Peserta lain, Rikzan Irfani merasa pemuda perlu mengambil mengambil langkah nyata untuk mengatasi tantangan harga rumah yang tinggi.
“Ketika saya telah memiliki penghasilan, saya perlu target finansial yang jelas dan menabung secara disiplin. Tidak mudah memang tapi literasi yang cukup akan memudahkan saya merancang investasi properti dimasa mendatang.” ujarnya.
Setelah penyampaian materi literasi, kegiatan dilanjutkan dalam diskusi yang menjadi kegiatan utama pengabdian masyarakat ini. Banyak pertanyaan yang muncul dari peserta mulai dari aspek legal, persyaratan kredit, eligibilitas pemohon KPR hingga cara dan tips agar tidak menjadi korban penipuan investasi properti. Dua jam diskusi ditutup dengan makan siang dan pemberian sertifikat peserta dan narasumber.

