Rumah Produksi Hasil Laut, Sarana Meningkatkan Nilai Tambah Produk Perikanan Nelayan Nambangan

Surabaya – Cuaca panas dan lembab di jalanan perkampungan nelayan Nambangan, Surabaya, tidak menyurutkan langkah ibu-ibu cinta kasih, sebuah organisasi internasional yang bernama Association International of Charity (AIC). Senin, 26 Oktober 2026, sekitar 30 orang rombongan AIC mengunjungi kampung Nambangan, di Kelurahan Kedung Cowek, Kecamatan Bulak, Surabaya, untuk menyerahkan dan meresmikan pengoperasian rumah produksi hasil laut, yang dikelola oleh Kesatuan Perempuan Pesisir Indonesia (KPPI) Kota Surabaya.

Penyerahan sekaligus penyerahan kunci rumah produksi hasil laut ini menandai selesainya renovasi pembangunan rumah produksi dan koperasi produk hasil laut, yang didanai melalui dana hibah AIC Internasional yang berpusat di Berlin, Jerman. Tidak hanya renovasi fisik bangunan, pembangunan juga menyasar penyediaan peralatan dan kelengkapan fasilitas, sebagaimana aturan agar produk hasil tangkapan nelayan ini mendapatkan izin P-IRT serta Halal, yang disyaratkan oleh pemerintah.

“Tidak hanya merenovasi gedung ini, tapi juga menyiapkan fasilitas penunjang seperti peralatan memasak dan sarana prasarana yang dibutuhkan, seperti air PDAM, sebelum para istri nelayan ini memulai produksinya,” kata Lucia Hendriati, Penanggung Jawab Proyek Nambangan, AIC Surabaya.

Produk olahan ikan bulu ayam produksi perempuan pesisir Nambangan

Renovasi bangunan yang awalnya difungsikan sebagai koperasi ini, diawali sejak September 2026, dengan memperbaiki atap, pintu dan pagar, jendela, serta fasilitas utilitas dan sanitasi. Peralatan lain yang disiapkan antara lain; kompor, wajan dan peralatan memasak, spinner atau pengering gorengan, serta kulkas. Setelah satu bulan pengerjaan, rumah produksi yang telah direnovasi kemudian diserahterimakan kepada Kesatuan Perempuan Pesisir Indonesia (KPPI) Kota Surabaya.

“Terima kasih atas bantuan dan pendampingannya. Mari membantu membeli produk-produk kami,” ucap Avivah, Ketua Kesatuan Perempuan Pesisir Indonesia (KPPI) Kota Surabaya.

Ketua Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Surabaya, Ahmad Syukron, mengungkapkan terima kasih atas kebersamaan dan bimbingan yang telah diberikan ibu-ibu AIC Surabaya terhadap para perempuan pesisir, melalui pelatihan dan pendampingan demi meningkatkan produk olahan hasil laut para nelayan Nambangan.

“Ketemunya ibu-ibu AIC dengan ibu-ibu nelayan Nambangan ini bukan sebuah kebetulan, tapi sebuah takdir dari Tuhan Yang Maha Kuasa, untuk lebih meningkatkan apa yang selama ini sudah diperjuangkan oleh ibu-ibu nelayan, yaitu produk unggulan ikan teri bulu ayam,” kata Ahmad Syukron.

Lurah Kedung Cowek Frans Setyadi, menerima kunjungan perwakilan AIC bersama KNTI dan KPPI Surabaya di Pendopo Kelurahan Kedung Cowek

Syukron juga berharap agar kerja sama dan bantuan yang telah diberikan kepada para perempuan pesisir Nambangan, menjadikan produk hasil olahan laut semakin berkembang di pasar nasional dan internasional.

“Harapan kami, produk kami bisa diaktifkan tidak hanya di dalam negeri saja, tapi secara internasional,” ujar Syukron.

Pengurus AIC bersama UKWMS yang mendampingi ibu-ibu pesisir Nambangan

Pada penyerahan dan peresmian renovasi rumah produksi hasil laut, dihadiri oleh Ladies Eunice Reyes selaku Pimpinan AIC wilayah Asia, Dewan Nasional AIC Indonesia, serta perwakilan unit AIC dari beberapa kota di Indonesia.

Para istri nelayan yang tergabung dalam Kesatuan Perempuan Pesisir Indonesia (KPPI) Kota Surabaya, sebelumnya telah mendapatkan 3 kali pelatihan dan pendampingan oleh AIC Surabaya, Fakultas Farmasi, Fakultas Bisnis dan Fakultas Teknologi Pangan Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, khususnya dalam meningkatkan nilai jual produk olahan hasil laut, bagaimana mengemas dan memasarkan produk sesuai standar, serta melakukan promosi secara digital.

“Terima kasih atas nama kelurahan, Ibu Camat, mudah-mudahan kunjungan dan kehadiran Bapak Ibu sekalian bisa membawa manfaat bagi kita semua,” kata Frans Setyadi Twee Dyanto Putro, Lurah Kedung Cowek.

Kesatuan Perempuan Pesisir Indonesia (KPPI) Kota Surabaya bersama ibu-ibu AIC Surabaya, Nasional, dan Internasional, di depan bangunan rumah produksi olahan hasil laut Nambangan yang selesai direnovasi

Pada pertemuan-pertemuan sebelumnya dengan AIC Surabaya, para istri-istri nelayan ini menuturkan kegelisahannya terkait kondisi perekonomian keluarga yang semakin sulit. Terlebih dengan kondisi iklim dan cuaca yang menyebabkan berbagai kondisi alam seperti banjir rob atau naiknya permukaan air laut, puting beliung, dan kondisi lain yang menyebabkan para nelayan kesulitan mendapatkan ikan dan hasil tangkapan laut lainnya. Belum lagi, beberapa keluarga terjerat utang renternir untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Pengolahan hasil tangkapan nelayan menjadi lebih bernilai ekonomis, merupakan pilihan untuk bertahan dan berjuang di tengah kesulitan ekonomi.

Keberadaan ruang produksi dengan perlengkapan dan sarana yang memenuhi standar, menjadi salah satu syarat untuk meningkatkan nilai ekonomis produk hasil tangkapan nelayan. Sehingga, renovasi rumah produksi dan pelatihan peningkatan kapasitas perempuan pesisir menjadi solusi untuk keluar dari permasalahan ekonomi yang membelit keluarga nelayan. (Petrus Riski)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *