Surabaya – Film pendek Daly City bergerak dengan langkah yang tenang, nyaris tanpa ambisi untuk mengejutkan penontonnya. Ia memilih jalur yang lebih sunyi: percakapan keluarga, kegelisahan kecil, dan kebohongan-kebohongan yang terdengar sepele, tapi pelan-pelan membentuk dilema moral yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Film karya diaspora Indonesia di Amerika ini tidak sedang memamerkan Amerika sebagai impian, melainkan sebagai ruang adaptasi, tempat identitas diuji dan kejujuran sering kali dinegosiasikan.
Salah satu kekuatan paling menonjol dalam film ini adalah karakter Bastian. Ari Dina Krestiawan, akademisi yang menonton film ini dengan kacamata reflektif, mengaku langsung tertarik pada sosok anak tersebut.
“Kesan saya yang paling kuat adalah saya sangat tertarik dengan karakter Bastian. Dia anak yang pandai, dan diartikulasikan dengan baik oleh pemerannya. Buat aktor kecil, dia memainkan perannya dengan sangat hebat,” jelas Ari, dosen Film di Universitas Multimedia Nusantara.
Bagi Ari, Daly City terasa seperti perjalanan menuju dunia nyata, sebuah fase ketika seseorang mulai memahami bahwa berbohong kadang dianggap perlu demi bisa menyesuaikan diri. “Di film ini seperti sebuah perjalanan tentang apa itu real world. Kadang kita harus berbohong untuk fit in,” katanya.
Pilihan penyutradaraan film ini pun mengikuti semangat yang sama: halus, kalem, dan tidak meledak-ledak. Ari menyebut gaya ini bukan preferensi pribadinya, namun ia tetap melihat kualitas yang solid. “Penyutradaraannya menurutku dilakukan dengan subtle, lembut. Frankly speaking, ini bukan jenis film yang saya suka, tapi film bagus dan film yang kita suka kan nggak selalu sama,” tutur Ketua Program Studi Digital Film & Media Production di IDS BTEC sejak 2020.
Ia juga mencatat bahwa film ini sangat mengandalkan dialog. “Penceritaannya mengalir lembut, tapi memang tidak ada unsur kejutan yang diberi emphasis kuat. Rutenya dialog, sementara saya pribadi lebih memilih visual,” imbuhnya.
Meski begitu, secara struktur, Daly City dinilai memiliki fondasi yang kokoh. “Premis ceritanya kuat karena bicara tentang loss of innocence, baik di lingkungan ibu yang religius maupun lingkungan ayah di kantor,” ucap Ari.
Menurutnya, salah satu keunggulan film ini adalah ketepatan memilih titik cerita. “Ini bukan film panjang yang dipendekin. Masalah banyak film pendek itu justru salah menempatkan titik berceritanya,” tegas lelaki yang merupakan kuratorial internasionalnya mencakup kurasi arsip film 8mm di Singapore International Festival of the Arts ini.
Pandangan yang lebih hangat datang dari Betet Kunamsinam, praktisi film, yang merasakan sisi emosional film ini sejak awal. “Yang paling terasa adalah kehangatan keluarga imigran di Amerika, bagaimana mereka menyesuaikan hidup di sana,” ujar Betet. Ia melihat Daly City sebagai potret adaptasi yang jujur, lengkap dengan gegar budaya timur dan barat yang kerap tidak terucap.

Bagi Betet, kebohongan yang hadir dalam film ini terasa sangat manusiawi. “Bagaimana film ini membahas soal kebohongan dalam kehidupan, terasa relate dan lumrah terjadi,” katanya.
Ia bahkan menyoroti detail-detail kecil yang menjadi jangkar identitas para tokohnya. “Sejauh-jauhnya pergi, makanan Indonesia, dan cara makan ‘muluk’ pakai tangan, jadi media mereka untuk berdamai dengan kerasnya hidup,” ujarnya.
Dari sisi teknis, Betet menilai film ini digarap dengan sangat serius. “Pencapaian teknisnya sangat bagus. Shot-shotnya steady, pergerakan kameranya minim, dan warna yang dipakai memberi kesan hangat,” tegas pria kelahiran Blitar, 1980 ini.
Lelaki bernama asli Wihantoro ini juga menilai alur ceritanya efektif untuk durasi film pendek. “Tidak bertele-tele, langsung ke inti masalah, dibangun pelan dan runtut. Bahasanya juga natural, Indonesia campur Inggris, bahkan ada satu kalimat Jawa untuk menegaskan identitas,” tutur lelaki yang pernah bekerja di Metro TV dan Alenia TV ini.
Sementara itu, Anang Prakasa, anggota DPRD Kabupaten Kediri yang pernah menempuh studi film di Los Angeles dan Australia, melihat Daly City sebagai upaya membangun relasi emosional keluarga imigran dengan lingkungannya. “Upaya menciptakan ikatan relasi keluarga imigran, dengan harapan bisa diterima di lingkungan baru, itu bisa dipahami dengan mudah,” kata Anang.
Secara visual, lelaki yang pernah bekerja di Berita Satu TV dan Metro TV ini langsung melihat kualitas teknis film ini sejak awal. “Dari teknik pencahayaan, saya merasakan film ini pasti ditangani DOP yang mumpuni,” tegasnya.
Namun ia juga memberi catatan kritis, terutama pada variasi pengambilan gambar. “Ada adegan percakapan yang seharusnya bisa lebih kaya secara visual, tidak hanya diambil lebar terus-menerus,” terang lulusan Strata Dua Master of Professional Communications (Film and Video) di Edith Cowan University, Perth, Western Australia ini.
Soal pesan, ketiganya bertemu di satu titik: kejujuran. Anang menyebut film ini mengajarkan pentingnya menjadi apa adanya. “Tidak perlu membuat kebohongan untuk diterima publik. Seperti adegan masak dadar jagung dan kerupuk, itu terasa genuine dan sebenarnya layak dibawa ke potluck,” jelas pria kelahiran Kediri, 1976 ini.
Betet pun merangkum pesan film ini secara singkat namun tegas: “Tentang kejujuran.” Sementara Ari menekankan konteks moralnya: “Benar dan salah selalu ada konteks yang menyertainya.”

Meski diapresiasi, film ini juga memunculkan jarak bagi sebagian penonton. Ari mengaku merasa asing saat menontonnya. “Rasanya saya kurang relate. Mungkin karena saya juga bukan diaspora. Yang saya rasakan, ini seperti orang yang lebih lama tinggal di luar negeri daripada di Indonesianya,” ungkap Ari. Ia bahkan mempertanyakan beberapa detail kultural yang terasa kurang Indonesia.
Namun justru di situlah tantangan narasi diaspora berada. Daly City membuka ruang diskusi tentang siapa audiens yang ingin disapa. “Ini pertukaran dialog yang harus dibangun jembatannya,” tegas pria yang karya-karya filmnya telah diputar di berbagai festival dan museum internasional, termasuk Museum MACAN (Jakarta), Thai Film Archive (Bangkok), dan Experimenta Film Festival (Bangalore) ini. Jika tidak, rasa asing itu akan tetap ada.
Betet dan Anang melihatnya dari sisi lain: film ini justru memberi perspektif baru bagi penonton Indonesia tentang kerasnya hidup di luar negeri dan romantika yang dialami para diaspora.
Ketika dibayangkan beredar di festival internasional, ketiganya sepakat bahwa tema universal film ini adalah kekuatannya. “Loss of innocence dan nilai keluarga Indonesia,” kata Anang, sementara Betet menekankan “gegap budaya timur dan barat” sebagai pintu masuk bagi penonton global.
Pada akhirnya, Daly City adalah film yang memilih jujur pada dunianya sendiri. Ia tidak berusaha menjadi representasi tunggal diaspora Indonesia, tetapi menghadirkan potongan kecil yang personal, hangat, dan kadang canggung. Sebuah pengingat bahwa hidup di tanah orang lain sering kali bukan tentang menjadi lebih hebat, melainkan tentang belajar bertahan, kadang dengan kejujuran, kadang dengan kebohongan kecil yang terlalu manusiawi.
Penulis: Asvin Ellyana
Editor: Petrus Riski

