Gerakan Masyarakat Melindungi Lanskap Sejarah Gunung Penanggungan dari Ancaman Tambang

Penambangan pasir dan baru jadi salah satu penyumbang degradasi lingkungan di Jawa Timur

Mojokerto – Suara truk tambang memecah heningnya malam di sekitar lereng Gunung Penanggungan. Bagi warga yang tinggal di kawasan itu, hiruk-pikuk kendaraan pengangkut material dan dentuman aktivitas di lokasi pertambangan bukan lagi peristiwa sesekali, melainkan bunyi yang datang hampir setiap hari. Perubahan lanskap pun semakin kentara. Tebing-tebing yang dahulu hijau perlahan berubah menjadi petak industri dan lubang galian, menghadirkan kontras tajam antara gunung yang selama berabad-abad dimaknai sakral, dengan aktivitas ekstraktif yang terus bergerak di kakinya.

Di Pulau Jawa, Penanggungan dikenal sebagai gunung yang memiliki kedudukan penting dalam sejarah dan kosmologi. Dalam The Religion of Java, Clifford Geertz menyinggung tradisi yang mengaitkan Pawitra, nama kuno Penanggungan dengan fragmen puncak Mahameru yang jatuh ketika para dewa memindahkan gunung suci dari India ke Jawa. Mitos itu menunjukkan bahwa Penanggungan sejak lama bukan sekadar bentang alam, melainkan ruang yang hidup dalam ingatan budaya masyarakat.

Dilansir dari Mongabay.co.id, dampak yang terlihat akibat perubahan itu berupa permukaan jalan berlubang yang menyebabkan ketidaknyamanan bagi beberapa warga sekitar. Warga setempat memberi kesaksian bahwa legalitas tambang terbit tanpa persetujuan warga setempat.

Radarmojokerto juga menyebut bahwa terdapat temuan galian illegal di Desa Srigading, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto. Galian itu ditemukan di luar titik koordinat yang diizinkan pemerintah. Dampak nyata yang dirasakan oleh masyarakat sekitar adalah degradasi kualitas air bersih yang merupakan kebutuhan primer warga. Hal itu menyulut emosi warga sekitar dan memicu adanya aksi massa yang penolak tambang.

Aksi penolakan juga dilakukan sekelompok anak muda dari masyarakat lokal yang prtihatin dengan kondisi lingkungan di Penanggungan. Gerakan bersama masyarakat sekitar lereng gunung Penanggungan yang dilakukan pada 24 April 2026, seperti dilansir dari akun instagram @updatemojokerto, menyoroti keresahan terkait perubahan situs-situs bersejarah yang akan terdampak bila akitivitas penambangan ini terus berlangsung. Mereka mendesak agar aktivitas penambangan galian C yang merusak sungai Pikatan, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto segera ditutup.

Eskavator di kawasan tambang pasir batu di kawasan lereng Penanggungan

Sekolah Alam Penanggungan Sebagai Respon Masyarakat

Sekolah Alam Penanggungan (SALAMAN) merupakan salah satu wadah yang tumbuh dan hidup di seputaran Pawitra. Komunitas ini bukan organisasi resmi yang memiliki legalitas sebagai lembaga swadaya masyarakat (LSM), namun sejatinya merupakan gerakan aktif yang mewadahi bertemunya individu-individu yang memiliki ketertarikan dan perhatian terhadap gunung Penanggungan. Syska La Veggie, salah satu tim SALAMAN menuturkan, kondisi yang sekarang terjadi di lereng Pawitra tidak lepas dari minimnya pemahaman masyarakat terhadap dampak jangka panjang dari aktivitas penambangan. Sebagian warga, terutama yang terdampak secara langsung oleh lalu lintas kendaraan tambang, justru melihat kondisi ini sebagai kesempatan meraih manfaat ekonomi jangka pendek. Lapangan kerja baru terbuka bagi warga sebagai efek keberadaan kawasan tambang.

Sementara itu, di balik sikap permisif sebagian warga yang cenderung pasif menyikapi risiko yang akan muncul, realita perubahan kontur alam sebagai dampak negatif adanya tambang mulai dirasakan. Salah satunya adalah berkurangnya debit air di beberapa titik kawasan. Di Dusun Genting, yang selama ini menjadi salah satu sumber distribusi air bagi beberapa wilayah di sekitarnya, aliran air disebut mulai mengalami penurunan. Sementara itu, kondisi yang lebih serius dilaporkan terjadi di Dusun Telogo. Warga merasakan penurunan ketersediaan air bersih secara signifikan dalam beberapa waktu terakhir.

“Beberapa warga mulai sadar kalau air yang dulunya melimpah sekarang mulai berkurang. Di Dusun Telogo malah penurunannya cukup terasa,” ujar Syska La Veggie dari Sekolah Alam Penanggungan.

Komunitas Sekolah Alam Penanggungan melihat fenomena ini sebagai tanda awal yang patut diperhatikan. Meski belum bisa disebut terdampak langsung akibat aktivitas tambang, perubahan yang terjadi telah menimbulkan kekhawatiran pada keberlanjutan sumber daya alam di kawasan Penanggungan, khususnya terkait ketersediaan air bersih sebagai kebutuhan dasar masyarakat.

Meski tidak selalu berbentuk penolakan secara langsung, masyarakat merespon atas kondisi alam dan lingkungan di Penanggungan yang mulai terusik. Upaya-upaya seperti gerakan penanaman pohon dan kegiatan edukasi lingkungan, banyak dilakukan sebagai pendekatan kepada masyarakat untuk turut peduli dengan lingkungan hidup mereka. Sekolah Alam Penanggungan terlibat aktif dalam sejumlah kegiatan, termasuk kolaborasi dengan berbagai pihak untuk menjaga kondisi kawasan Penanggungan secara bertahap.

“Penanamannya dilakukan di beberapa titik yang memang bisa di-tracking supaya pohonnya tetap hidup dan bisa dipantau,” ujar Syska La Veggie.

Selain penghijauan, masyarakat di beberapa dusun juga masih mempertahankan tradisi yang berkaitan dengan sumber air. Di Dusun Genting, misalnya, warga masih rutin melakukan ritual Unduh Tirta berupa arak-arakan dan tumpengan menuju tandon sumber air yang selama ini mengaliri beberapa dusun di kawasan sekitar Penanggungan.

Hal ini merupakan respon yang paling memungkinkan dalam konteks sosial masyarakat, yang tidak sekadar menghadirkan dinamika pro dan kontra terhadap tambang. Dinamika ini juga menghadirkan proses adaptasi, negosiasi, dan pencarian bentuk yang dirasa lebih dapat diterima oleh masyarakat menyikapi kondisi di Penanggungan.

Praktik Petambangan Menimbulkan Perpecahan?

Keberadaan tambang di lereng Penanggungan tidak hanya mengubah bentang alam, tetapi juga memunculkan perbedaan sikap di tengah masyarakat. Aktivitas pertambangan perlahan menghadirkan dua kubu dengan kepentingan yang berbeda: masyarakat yang menggantungkan hidup pada tambang, dan masyarakat yang mulai merasakan dampak lingkungan dari aktivitas tersebut.

Alat berat sedang mengeruk batuan di salah satu bukit

Salah seorang warga Kunjorowesi yang tidak ingin disebut namanya mengatakan, sebagian besar roda ekonomi masyarakat saat ini bergantung pada sektor tambang. Menurutnya, aktivitas tambang telah menjadi sumber penghasilan utama warga selama bertahun-tahun.

“Dibilang nggak menguntungkan ya menguntungkan, karena di sini putaran ekonominya 75 persen dari tambang. Kalau tambangnya nggak ada, masyarakat akan kesulitan lagi,” ujarnya.

Perubahan juga terlihat pada pola pekerjaan masyarakat. Jika sebelumnya mayoritas warga bekerja di sektor pertanian, kini banyak yang mulai beralih menjadi pekerja tambang, sopir truk, hingga pemecah batu.

“Kalau dulu sekitar 70 persen dari pertanian, sekarang tinggal 30 persen,” katanya.

Namun di tengah ketergantungan ekonomi tersebut, sebagian masyarakat mulai mengkhawatirkan perubahan kondisi lingkungan di kawasan lereng gunung. Seorang pekerja tambang mengatakan masyarakat di Telogo dan Kunjorowesi mulai terbelah menjadi dua kelompok.

“Aksi di desa sekitar Telogo dan Kunjorowesi terbagi menjadi dua kubu. Kubu yang protes kalau tambang dihentikan karena mata pencaharian mereka terdampak, dan kubu yang berharap tambang ditutup karena lahan-lahan mereka di dataran lebih tinggi menjadi tidak berfungsi,” ujarnya.

Menurutnya, konflik yang muncul bukan sekadar persoalan tambang semata, tetapi menyangkut ruang hidup masyarakat yang perlahan berubah. Sebagian warga merasa tambang memberi penghidupan, sementara sebagian lainnya mulai merasakan berkurangnya fungsi lingkungan di kawasan sekitar gunung.

“Yang menolak penutupan tambang itu karena mereka takut kehilangan pekerjaan dan sumber pendapatan,” katanya.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa industri tambang di kawasan Penanggungan tidak hanya menghadirkan persoalan lingkungan, tetapi juga memunculkan dilema sosial di tengah masyarakat. Di satu sisi tambang menjadi sumber ekonomi warga, namun di sisi lain aktivitas tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap keberlangsungan ruang hidup dan lingkungan di masa depan.

Merawat Gunung, Melindungi Sejarah

Di tengah pro dan kontra aktivitas tambang di lereng Penanggungan, sejumlah akademisi menilai kawasan gunung tidak dapat dipahami hanya sebagai ruang ekonomi semata. Gunung juga menyimpan nilai sejarah, budaya, dan hubungan spiritual masyarakat dengan alam yang telah hidup sejak lama.

Kepala Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Jember, Akhmad Ryan Pratama, mengatakan masyarakat Jawa sejak masa lampau memandang gunung sebagai ruang kosmologis yang sakral. Bahkan sebelum masuknya pengaruh Hindu-Buddha, masyarakat telah menjadikan gunung sebagai orientasi kehidupan dan kepercayaan mereka.

“Kalau dilihat dari temuan arkeologis dan peninggalan megalitik seperti batu kenong, batu dakon, dan sebagainya, orientasi masyarakat masa lalu sering menghadap ke arah gunung,” ujarnya.

Candi Belahan merupakan salah satu situs bersejarah di lereng gunung Penanggungan yang menjadi sumber mata air bagi warga

Menurutnya, ketika Hindu-Buddha berkembang di Jawa, pandangan tersebut kemudian semakin kuat melalui mitos dan simbol-simbol spiritual yang berkaitan dengan gunung. Pendakian gunung pada masa lalu tidak hanya dipahami sebagai perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan spiritual manusia dalam memahami dirinya sendiri.

“Semakin tinggi mendaki, makin dekat dengan puncak, perjalanan itu menjadi perjalanan spiritual,” kata Ryan.

Namun, hubungan masyarakat dengan gunung perlahan mengalami perubahan seiring masuknya modernisasi dan kapitalisme. Gunung yang sebelumnya dipandang sebagai ruang sakral perlahan berubah menjadi sumber ekonomi dan eksploitasi sumber daya alam.

“Gunung yang dulunya sakral perlahan berubah menjadi sumber ekonomi,” imbuhnya.

Ia menjelaskan bahwa lanskap alam sebenarnya tidak dapat dipisahkan dari nilai sejarah situs-situs yang berada di Penanggungan. Keberadaan mata air, hutan, hingga lingkungan di sekitar situs menjadi bagian penting dalam memahami makna sejarah kawasan tersebut.

“Kalau sebuah situs masih berada di lokasi aslinya dan lingkungannya masih terjaga, masyarakat akan lebih mudah memahami fungsi dan maknanya,” sambungnya.

Menurutnya, kerusakan lingkungan di kawasan gunung bukan hanya berdampak pada alam, tetapi juga menghilangkan konteks sejarah dan hubungan manusia dengan ruang hidupnya sendiri.

“Kalau mata air ingin tetap terjaga, maka kawasan di sekitarnya tidak boleh ditambang secara sembarangan,” ujar Ryan.

Ia menilai, menjaga kawasan gunung sebenarnya bukan sekadar menjaga alam, tetapi juga menjaga ingatan sejarah, identitas budaya, dan keberlanjutan hidup masyarakat di masa depan.

“Kalau hubungan dengan alam hilang, maka kesadaran untuk menjaga keberlanjutan juga ikut hilang,” katanya.

Jalan Tengah Tanpa Mengorbankan Alam

Aktivitas tambang galian C di kawasan lereng gunung Penanggungan tidak hanya menghadirkan persoalan ancaman degradasi lingkungan, tetapi juga membentuk relasi ekonomi baru di tengah masyarakat. Bagi sebagian warga, keberadaan tambang menjadi sumber penghasilan yang sulit dipisahkan dari kebutuhan hidup sehari-hari. Ada yang bekerja sebagai sopir truk, pekerja tambang, hingga terlibat dalam aktivitas ekonomi lain yang tumbuh di sekitar jalur distribusi material tambang.

Penambangan pasir dan baru jadi salah satu penyumbang degradasi lingkungan di Jawa Timur

Sri Endah Nurhayati, dosen mata kuliah Pariwisata Berkelanjutan Vokasi, Program Studi Destinasi Pariwisata, menjelaskan bahwa kondisi yang terjadi di Penanggungan sering memunculkan pro dan kontra di tengah masyarakat. Ada warga yang menolak tambang karena dampak negatif bagi alam dan lingkungan, namun ada pula yang menjadikan tambang sebagai gantungan ekonomi dan masa depan.

“Kalau yang pro karena mereka jadi bagian dari industri pertambangannya. Mereka mungkin jadi sopirnya, jadi pekerjanya,” ujar Sri Endah Nurhayati, Selasa (12/5/2026).

Selain membuka lapangan pekerjaan, aktivitas tambang juga memunculkan perputaran ekonomi lain di tingkat lokal. Sri Endah menuturkan, di beberapa titik jalur tambang kerap terdapat sistem “tarikan” bagi kendaraan pengangkut material yang melintas. Dana itu diduga menjadi sumber pemasukan bagi warga di wilayah setempat.

“Ada kayak meja gitu, kalau truk lewat itu berbayar. Biasanya model seperti itu ada kepentingan untuk mendapatkan dana, entah untuk RT, RW, atau desa,” jelasnya.

Situasi yang terjadi menunjukkan bahwa persoalan tambang tidak dapat dilihat secara hitam-putih. Di satu sisi, tambang menghadirkan sumber penghasilan bagi masyarakat. Namun di sisi lain, aktivitas tambang juga menimbulkan ancaman terhadap kelestarian lingkungan hidup di kawasan pegunungan Penanggungan.

Menurut Endah, kerusakan lingkungan akibat pertambangan akan berdampak panjang, terutama jika dikaitkan dengan keberlanjutan kawasan wisata maupun ruang hidup masyarakat sekitar. Ia menjelaskan bahwa dalam konsep pariwisata berkelanjutan memiliki tiga pilar utama, yaitu ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan. Ketiganya harus berjalan secara seimbang.

“Kalau alamnya rusak, otomatis aspek pariwisatanya juga menurun,” katanya.

Ia menambahkan, keuntungan ekonomi dari tambang seringkali hanya dirasakan dalam jangka pendek. Sementara dampak kerusakan lingkungannya membutuhkan biaya pemulihan yang jauh lebih besar dan waktu yang sangat lama.

“Kita dapat seribu, tapi recovery-nya bisa sejuta,” ujar Endah.

Menurutnya, selama ini banyak pihak membenturkan kepentingan ekonomi dan lingkungan, seolah ketika pembangunan ekonomi dipilih maka alam harus dikorbankan. Padahal, kerusakan lingkungan dalam jangka panjang justru dapat menghadirkan kerugian yang lebih besar bagi masyarakat sendiri.

“Selama ini lingkungan selalu dibenturkan dengan kepentingan ekonomi seolah-olah kalau mengambil kepentingan ekonomi, lingkungan harus dikorbankan,” jelasnya.

Endah menilai bahwa pariwisata dapat menjadi jalan tengah antara kebutuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Kawasan pegunungan, menurutnya, memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui wisata alam, edukasi lingkungan, hingga wisata budaya berbasis masyarakat, tanpa harus merusak lanskap gunung itu sendiri.

“Dengan pariwisata, alam bisa tetap menjadi potensi ekonomi tanpa kehilangan bukit dan gunungnya,” tuturnya.

Di lereng Gunung Penanggungan, diantara suara truk dan debu yang beterbangan, masih ada aliran mata air yang sejak ratusan tahun lalu menjaga kehidupan masyarakat di sekitarnya. Di satu sisi, tambang menjadi sumber penghidupan bagi sebagian warga. Namun di sisi lain, perubahan lanskap perlahan menghadirkan kekhawatiran terhadap ruang hidup, sumber air, hingga keberlangsungan warisan sejarah yang selama ini hidup di kawasan gunung.

Bagi masyarakat Jawa masa lalu, gunung bukan sekadar bentang alam. Gunung merupakan ruang spiritual, tempat manusia memahami dirinya sendiri sekaligus menjalin hubungan dengan alam dan leluhur. Jejak pandangan itu masih dapat ditemukan melalui petirtaan, candi, jalur pendakian, hingga tradisi masyarakat yang bertahan di sekitar Penanggungan.

Namun hari ini, hubungan itu perlahan mengalami perubahan. Gunung yang dahulu dimaknai sakral kini semakin sering dipandang sebagai sumber daya ekonomi. Di tengah kebutuhan hidup masyarakat dan aktivitas industri yang terus bergerak, Penanggungan menghadapi dilema antara pembangunan, lingkungan, dan pelestarian sejarah.

Sejumlah warga mulai merasakan perubahan kondisi lingkungan, terutama berkurangnya debit air di beberapa dusun. Di sisi lain, sebagian masyarakat masih menggantungkan hidup pada aktivitas tambang. Situasi itu menghadirkan perpecahan pandangan di tengah warga mengenai masa depan kawasan lereng gunung.

Meski demikian, berbagai upaya menjaga Penanggungan masih terus dilakukan. Mulai dari penanaman pohon, ritual bersih sumber air, edukasi komunitas, hingga gagasan pengembangan wisata berbasis alam dan budaya sebagai alternatif ekonomi masyarakat.

Pada akhirnya, persoalan di Penanggungan bukan hanya tentang tambang atau gunung semata. Ia juga berbicara tentang bagaimana manusia memandang alam, sejarah, dan ruang hidupnya sendiri. Sebab ketika lanskap perlahan hilang, yang ikut tergerus bukan hanya tanah dan batuan, tetapi juga ingatan, identitas, serta hubungan manusia dengan alam yang selama ini menjaga kehidupan mereka.

Koordinator Nasional Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), Melky Nahar, menyebut pesoalan tambang selama ini hanya memenuhi kepentingan elit politik dan penguasa di negeri ini. Masyarakat di lingkar tambang lebih banyak menerima dampak negatif yang jangka waktunya sangat panjang.

“Negara tidak mau tahu situasi yang dialami rakyat, khususnya mengenai daya rusak yang melampaui umur tambang dan bahkan antargenerasi,” kata Melky, Sabtu (30/5/2026).

Tragedi kerusakan lingkungan dan kematian warga akibat lubang tambang, menunjukkan bahwa aktivitas ekstraktif lebih banyak mendatangkan kerugian. Keuntungan ekonomi hanya menguntungkan kelompok elit tertentu. Melky mendorong adanya gerakan rakyat untuk melawan pemanfaatan kekuasan demi sumber daya alam.

“Kita tidak bisa berharap pada otoritas kekuasaan. Satu-satunya harapan hanya pada warga di kampung itu sendiri,” ujar Melky.

Penulis: Tri Nur Aini Tirta Kisma, Andini Faridatussa’adah, Khoiriyah Idah Lestari

Editor: Petrus Riski

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *