GRESIK — Upaya memperkuat kemandirian ekonomi perempuan melalui pengembangan usaha rumahan terus dilakukan di Desa Sidomulyo, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik. Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, pelaku home industry minuman herbal didampingi untuk meningkatkan kapasitas produksi, memperbaiki tata kelola usaha, hingga memperluas pemasaran melalui kanal digital.
Program bertajuk “Pemberdayaan Perempuan melalui Penguatan Home Industri untuk Meningkatkan Pendapatan Rumah Tangga Berbasis Ekonomi Berkelanjutan di Desa Sidomulyo Kecamatan Sidayu Kabupaten Gresik” ini dilaksanakan oleh tim yang diketuai Joko Priyono, SE., MM., bersama Muhammad Taufiq Hidayat, Salwa Toha, Dewi Nur Azizah, dan Annisa Nurul Pebrianti.
Mitra program merupakan pelaku usaha minuman dan makanan rumahan di Desa Sidomulyo. Produk yang dikembangkan antara lain minuman kedelai dan temulawak serta produk roti yang menggunakan bahan baku lokal.

Dari Produksi Manual Menuju Teknologi Tepat Guna
Sebelum program berjalan, pelaku usaha masih menghadapi sejumlah kendala. Peralatan produksi yang sederhana membuat kapasitas produksi terbatas. Pengelolaan keuangan juga belum dilakukan secara sistematis, sementara pemasaran masih banyak mengandalkan penjualan langsung dan jaringan lokal.
Untuk menjawab persoalan tersebut, tim pengabdi memperkenalkan teknologi tepat guna yang disesuaikan dengan kebutuhan mitra, antara lain alat pemotong atau perajang rempah dan panci stainless steel berkapasitas lebih besar.
Penerapan peralatan tersebut membuat proses pengolahan bahan baku menjadi lebih terencana dan efisien. Laporan pengabdian mencatat kapasitas produksi minuman temulawak meningkat dari sebelumnya sekitar 20 liter menjadi 40 liter, atau dua kali lipat.
Peningkatan tersebut juga membuka peluang baru bagi mitra untuk tidak hanya mengolah temulawak menjadi minuman, tetapi juga mengembangkan bahan baku temulawak rajang kering yang memiliki nilai ekonomi.
Belajar Mengelola Usaha, Bukan Sekadar Memproduksi
Penguatan usaha tidak berhenti pada aspek produksi. Tim juga memberikan pelatihan perencanaan produksi dan pengelolaan keuangan menggunakan aplikasi sederhana, termasuk Microsoft Excel.
Melalui pendampingan tersebut, mitra belajar merencanakan kebutuhan bahan baku, menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP), serta memisahkan keuangan usaha dari keuangan rumah tangga.
Langkah ini penting agar pelaku home industry dapat mengetahui biaya produksi dan hasil usaha secara lebih terukur. Dengan pencatatan yang lebih tertata, keputusan terkait produksi dan pengembangan usaha dapat dilakukan berdasarkan data, bukan sekadar perkiraan.

Membuka Jalan ke Pasar Digital
Perubahan juga dilakukan pada sisi pemasaran. Tim pengabdi memberikan pelatihan pemanfaatan media sosial dan marketplace untuk memperluas jangkauan pasar.
Salah satu luaran yang telah dicapai adalah bertambahnya saluran pemasaran melalui marketplace Shopee. Digitalisasi pemasaran diharapkan membantu produk mitra menjangkau konsumen di luar lingkungan desa.
Program juga mendorong penguatan identitas produk melalui branding, kemasan, foto produk, serta pengembangan katalog digital. Pendekatan ini diarahkan agar produk home industry memiliki tampilan yang lebih siap bersaing di pasar yang lebih luas.
Melibatkan Masyarakat Sekitar
Pengembangan usaha mitra juga berpotensi menciptakan hubungan ekonomi dengan warga di sekitar Desa Sidomulyo. Salah satunya melalui kebutuhan bahan baku temulawak.
Masyarakat yang menghasilkan empon-empon dapat menjadi pemasok bahan baku bagi usaha mitra. Temulawak segar dapat diolah menjadi bahan baku minuman maupun produk temulawak rajang kering.
Dengan demikian, pengembangan home industry tidak hanya berdampak pada pelaku usaha, tetapi juga membuka peluang kerja sama dengan masyarakat yang berada dalam rantai pasok lokal.
Masih Ada Tahap Pengembangan Berikutnya
Meski sejumlah capaian telah diperoleh, laporan pengabdian juga mencatat kebutuhan pengembangan lanjutan. Di antaranya penataan tempat dan layout produksi agar lebih higienis, penambahan peralatan dengan kapasitas lebih besar, perbaikan desain label dan kemasan, serta pendampingan terkait legalitas dan standardisasi produk.
Tim juga merekomendasikan pendampingan berkelanjutan melalui komunikasi dengan mitra, BUMDes Sidomulyo, serta pihak terkait di Kabupaten Gresik.
Program ini menunjukkan bahwa penguatan home industry membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Peningkatan kapasitas produksi perlu berjalan bersama dengan kemampuan mengelola keuangan, membangun identitas produk, dan memanfaatkan teknologi digital.
Bagi pelaku usaha perempuan di Desa Sidomulyo, pengembangan tersebut menjadi bagian dari proses membangun usaha yang lebih mandiri dan berkelanjutan dengan memanfaatkan potensi ekonomi lokal.

