Kelas Menengah Makin Berhemat, Downgrade Lifestyle Ubah Peta Konsumsi Masyarakat Indonesia

SMARTKLIK.ID – Fenomena downgrade lifestyle atau penurunan gaya hidup konsumsi semakin terlihat di tengah masyarakat kelas menengah Indonesia. Tekanan ekonomi dan kenaikan harga kebutuhan mendorong konsumen mengubah pola belanja, mulai dari meninggalkan produk premium hingga beralih ke merek yang menawarkan harga lebih terjangkau dengan kualitas relatif serupa.

Laporan Mandiri Institute mencatat jumlah penduduk kelas menengah Indonesia menyusut dari 47,9 juta orang pada 2024 menjadi 46,7 juta orang pada 2025. Kondisi tersebut menjadi salah satu gambaran tekanan yang dihadapi kelompok masyarakat yang selama ini menjadi penopang utama konsumsi rumah tangga.

Menurut Prof. Gancar, fenomena downgrade lifestyle merupakan bentuk adaptasi masyarakat dalam menghadapi kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya membaik.

Masyarakat tidak serta-merta menghentikan aktivitas konsumsinya. Namun, mereka mulai mempertimbangkan kembali pilihan produk yang dibeli, terutama dengan mencari alternatif yang lebih ekonomis.

“Produk premium tidak lagi menjadi solusi, apalagi muncul merek-merek baru yang menawarkan kualitas kurang lebih sama, tetapi dengan harga lebih terjangkau,” demikian penjelasan Prof. Gancar dalam materi wawancara.

Perubahan tersebut juga didukung perkembangan pemasaran digital. Promosi melalui influencer, Instagram, hingga TikTok membuat masyarakat semakin mudah menemukan berbagai merek alternatif dengan harga yang lebih kompetitif.

Mengapa Sudah Berhemat tetapi Tabungan Tidak Bertambah?

Salah satu fenomena menarik dari perubahan gaya hidup ini adalah masyarakat merasa telah menghemat pengeluaran, tetapi jumlah tabungan tidak mengalami peningkatan signifikan.

Prof. Gancar menjelaskan, kondisi tersebut terjadi karena penyesuaian konsumsi yang dilakukan masyarakat lebih bertujuan mempertahankan aktivitas sehari-hari daripada meningkatkan kemampuan menabung.

Di tengah kenaikan harga barang dan jasa, pendapatan sebagian masyarakat relatif tetap. Akibatnya, penghematan dilakukan dengan mengganti merek produk yang dikonsumsi, bukan mengurangi jenis kebutuhan atau aktivitas belanja.

Sebagai contoh, konsumen yang sebelumnya membeli produk premium mulai beralih ke merek dengan harga lebih rendah. Namun, kebutuhan untuk membeli produk tersebut tetap ada.

Dengan demikian, pengeluaran memang dapat ditekan, tetapi selisihnya belum tentu cukup besar untuk meningkatkan tabungan.

Menurut Prof. Gancar, masyarakat melakukan penyesuaian karena memandang kondisi perekonomian saat ini belum sepenuhnya baik-baik saja.

Artinya, downgrade lifestyle lebih merupakan strategi mempertahankan keseimbangan pengeluaran di tengah tekanan ekonomi, bukan semata-mata upaya membangun tabungan.

Konsumen Tidak Berhenti Belanja, tetapi Beralih Merek

Perubahan pola konsumsi ini membawa dampak berbeda bagi setiap sektor industri.

Prof. Gancar menilai, fenomena downgrade lifestyle masih memungkinkan aktivitas ekonomi terus berjalan. Masyarakat tetap melakukan transaksi, tetapi mengalihkan pilihan konsumsi ke produk yang lebih terjangkau.

Dampak yang paling terasa terutama pada kategori produk ritel tertentu, seperti sereal, susu, dan minyak goreng. Produk dari merek premium dan merek-merek terkemuka menghadapi tekanan penjualan karena sebagian konsumen mulai berpindah ke alternatif yang lebih murah.

Pergeseran serupa juga terjadi pada sektor kendaraan dan elektronik.

Dengan kata lain, tekanan ekonomi tidak selalu membuat permintaan pasar menghilang. Dalam sejumlah kategori, permintaan justru berpindah dari satu merek ke merek lainnya.

Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi produsen yang selama ini mengandalkan konsumen kelas menengah dengan daya beli relatif lebih tinggi.

Industri Harus Mengikuti Perubahan Daya Beli

Di tengah perubahan perilaku konsumen, produsen dituntut lebih adaptif dalam menyusun strategi bisnis.

Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah menghadirkan variasi produk dengan konsep value pricing, yakni menawarkan kombinasi harga, kualitas, dan manfaat yang sesuai dengan kemampuan konsumen.

Prof. Gancar menilai, keberlanjutan bisnis akan semakin ditentukan oleh kemampuan produsen menyediakan pilihan produk yang relevan dengan kondisi ekonomi masyarakat.

Strategi tersebut dapat diterapkan melalui peluncuran produk berukuran lebih kecil, kemasan ekonomis, maupun varian dengan harga yang lebih terjangkau.

Pendekatan ini juga dapat membuka peluang bagi merek-merek baru untuk memasuki pasar ketika konsumen semakin sensitif terhadap harga.

Bahkan, merek yang berhasil membangun kepercayaan konsumen selama periode penurunan daya beli berpeluang tetap menjadi pilihan ketika kondisi ekonomi kembali membaik.

Menurut Prof. Gancar, penyesuaian gaya hidup masyarakat pada dasarnya tidak dirancang untuk berlangsung permanen. Konsumen akan kembali mempertimbangkan pilihan konsumsi sebelumnya ketika kondisi ekonomi dinilai sudah lebih baik.

Meski demikian, perubahan preferensi merek yang terbentuk selama periode tersebut dapat memberikan keuntungan jangka panjang bagi produsen yang mampu memanfaatkan momentum.

Persaingan Produk Murah Semakin Menekan Merek Premium

Tantangan industri tidak hanya datang dari perubahan daya beli masyarakat. Persaingan produk dengan harga kompetitif, termasuk produk asal China, juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan.

Prof. Gancar menyoroti tekanan terhadap produk premium akibat masuknya produk-produk dengan strategi harga agresif, termasuk melalui pendekatan predatory pricing dan value pricing.

Kondisi tersebut membuat produsen harus semakin cermat menentukan posisi produknya di pasar.

Merek premium tidak cukup hanya mengandalkan reputasi dan citra eksklusif. Mereka juga perlu memastikan bahwa nilai yang ditawarkan sebanding dengan harga yang harus dibayar konsumen.

Di sisi lain, merek dengan harga lebih terjangkau memiliki kesempatan memperluas pangsa pasar selama mampu menjaga kualitas dan memenuhi kebutuhan konsumen.

Konsumen Masih Berhati-hati hingga 2026

Perubahan perilaku belanja masyarakat juga berkaitan dengan persepsi terhadap kondisi perekonomian.

Dalam materi wawancara, Prof. Gancar merujuk hasil riset NielsenIQ Indonesia yang menunjukkan konsumen Indonesia mulai lebih berhati-hati dalam melakukan pengeluaran sejak 2025. Perilaku tersebut disebut masih berlanjut hingga 2026.

Berbagai ketidakpastian ekonomi turut memengaruhi cara masyarakat mengambil keputusan konsumsi.

Mulai dari pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan harga barang, hingga meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi perekonomian membuat masyarakat lebih selektif dalam menggunakan uang.

Ungkapan “In this economy” yang banyak digunakan di media sosial menjadi salah satu gambaran bagaimana masyarakat mengekspresikan kehati-hatian tersebut.

Perubahan itu terlihat dari berbagai kebiasaan sederhana, seperti membawa bekal dari rumah, memilih kopi sachet dibandingkan kopi di gerai, menggunakan kendaraan dengan kapasitas mesin lebih kecil, hingga mengurangi frekuensi liburan.

Namun, Prof. Gancar menegaskan bahwa penyesuaian tersebut tidak serta-merta menunjukkan masyarakat telah meninggalkan gaya hidup sebelumnya secara permanen.

Perilaku tersebut lebih mencerminkan upaya adaptasi sampai masyarakat merasa kondisi ekonomi kembali membaik.

Peluang Baru di Tengah Tekanan Ekonomi

Fenomena downgrade lifestyle menunjukkan bahwa perubahan daya beli tidak hanya menjadi persoalan konsumen, tetapi juga menjadi ujian bagi dunia usaha.

Perusahaan yang mampu memahami perubahan perilaku konsumen dan menyediakan produk sesuai kemampuan daya beli masyarakat memiliki peluang mempertahankan pasar.

Sebaliknya, produsen yang terlalu bergantung pada segmen premium berpotensi menghadapi tekanan lebih besar ketika konsumen mulai mengutamakan harga dan manfaat.

Bagi perekonomian, pergeseran konsumsi ini menunjukkan bahwa aktivitas transaksi masih berlangsung, meskipun komposisi merek dan produk yang dibeli mengalami perubahan.

Ke depan, kemampuan industri menyesuaikan strategi harga, kualitas, dan variasi produk akan menjadi salah satu faktor penting dalam menghadapi perubahan pola konsumsi masyarakat Indonesia.

Fenomena ini sekaligus menjadi pengingat bahwa daya beli tidak hanya menentukan seberapa banyak masyarakat berbelanja, tetapi juga menentukan ke mana uang mereka mengalir dan merek apa yang mampu bertahan di tengah persaingan pasar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *