Surabaya – Sebuah film pendek Indonesia berjudul “What the Water Keeps” berhasil mengembangkan layarnya di belantika perfilman internasional. Film pendek garapan sutradara Bramuda, akan bersanding dengan sinema pendek negara lainnya dalam Project Spark Funding dan International Screening Tour Akral Pictures, yang creeningnya diinisiasi oleh NANLUX and NANLITE.
Adapun “What the Water Keeps” adalah satu-satunya film garapan sineas tanah air yang sukses memperoleh pendanaan dan akan menjalani screening tour di berbagai negara, seperti Cina, Polandia, Amerika Serikat, Selandia Baru, dan Indonesia. “What the Water Keeps” akan ditayangkan bersamaan dengan sinema pendek berjenis experimental shorts dan narrative shorts, di antaranya “Grey Matter”, “Tito Ritmo”, “Waiting for The Old Gods”, “Towards”, “The Missing Key”, “Letters from Ulan Lake”.
Bramuda mengungkapkan bahwa film berdurasi 26 menit 25 detik itu terinspirasi dari kisah nyata yang dialaminya sendiri, yakni kehilangan nenek buyut terkasih yang dinyatakan meninggal dunia usai beberapa saat berdiam di kamar mandi. Ia pun mengakui, rasa kehilangan tersebut masih membersamai dan meninggalkan rasa bersalah yang menurutnya tidak pernah bisa dihilangkan.
Alur cerita juga terinspirasi dari kisah sahabatnya, yang menemukan sebuah unggahan di grup Facebook tentang sebuah Suzuki Jimny yang ditinggalkan dan ditemukan terlantar di pesisir pantai.
“Mobil itu ternyata milik empat anggota keluarga yang tersapu ombak. Ternyata putra sulung keluarga itu tidak bersama mereka saat kejadian berlangsung, karena memilih untuk bersama teman-temannya,” tutur Bramuda.

Saat mendengar kisah itu untuk pertama kalinya, Bramuda menyebut bahwa ia berimajinasi dan memosisikan dirinya sebagai putra sulung, yang bergumul dengan makna hidup sesungguhnya, yang selamanya menanggung beban sedemikian besar dalam hidupnya.
“Film ini adalah upaya saya untuk menghadapi keheningan itu, untuk menghadapi beban dari apa yang seharusnya terjadi, dan untuk menemukan kekuatan untuk terus bergerak, bahkan dengan beban yang tidak dapat kita ubah,” jelasnya.
Dalam film pendek “What the Water Keeps”, Bahar (Giulio Parengkuan) masih dihantui rasa bersalah karena tidak berada pada 2024 bersama keluarganya, saat mereka tewas di laut. Ia lantas meminta bantuan Oka (Kaan Lativan), seorang mekanik, untuk membantu memperbaiki Suzuki Jimny milik ayahnya yang terbengkalai.
Bahar kemudian meminta Oka untuk mengantarnya ke pantai, yang awalnya ditolak Oka dengan halus, tetapi kemudian disetujui. Saat melalui perjalanan panjang itu, mereka berhenti di sebuah rumah makan, di mana Bahar mengetahui tentang luka Oka. Saudara laki-laki Oka adalah seorang penambang yang hilang saat bekerja di perusahaan penambangan pasir. Bahar kemudian memberi tahu Oka bahwa dirinya ingin mengunjungi seseorang yang sudah lama tidak pernah ditemui, tetapi alasan sebenarnya tetap tidak terucapkan.
Perjalanan itu pun memaksa mereka berdua untuk mengakui rasa sakit yang selama ini mereka hindari, membentuk kontur rasa bersalah yang selama ini mereka tanggung dalam diam. Saat mereka tiba di pantai, Oka tetap di dalam mobil. Sementara Bahar berjalan menuju air. Saat Oka memeriksa dasbor mobil, ia menemukan foto keluarga dan potongan koran tentang mobil itu, yang menimbulkan keterkaitan yang mengerikan. Ia mendongak dan mendapati Bahar telah menghilang ke laut. Didorong oleh rasa takut serta masa lalunya sendiri, Oka pun menghadapi terornya di pantai untuk dapat menemukan Bahar.
Produser Dendy Ariza Putra mengatakan, kisah perjalanan Bahar bersama Oka terungkap sebagai proses pelarian daripada pencarian solusi. Oka hadir sebagai pemandu melalui kehadirannya yang tenang serta tindakan sederhana yang dijalani, tanpa dominasi emosional. Pada akhirnya, kejadian ia tenggelam tidak diposisikan sebagai tindakan bunuh diri, tetapi sebagai isyarat performatif terakhir, cara bagi tubuh untuk menyerahkan diri kepada laut sebagai ruang yang menyimpan memori.
“Film ini memilih untuk berakhir pada tindakan penyerahan diri, membiarkan laut menyimpan apa yang tidak perlu diselamatkan atau dikembalikan,” pungkasnya. (Petrus Riski)

