Surabaya – China adalah fenomena dalam studi Pembangunan suatu negara. Dari negara yang memiliki PDB sangat rendah diakhir tahun 1970an yang miskin menjelma menjadi salah satu ekonomi terbesar di dunia. Sejak reformasi dan keterbukaan yang dipelopori oleh Deng Xiaoping, China menjadi magnet luar biasa dalam investasi, teknologi, dan dinamika pasar global, yang memicu pertumbuhan luar biasa dalam output manufaktur dan ekspor. Pertumbuhan ekonomi China mencapai double digit setiap tahunnya. Ketika ekonomi global melambat di tahun 2020an, ekonomi China masih tumbuh diatas 5 persen. Pada kuartal II/2025, perekonomian China tumbuh sekitar 5,2% di tengah tekanan konsumsi domestik dan ekspor yang kuat ke pasar luar AS. Karena itu, tidak mengherankan jika transformasi struktural ekonomi China yang berkelanjutan tersebut meningkatkan pendapatan rata‑rata dan standar hidup jutaan warga negaranya. Namun di balik angka‑angka pertumbuhan, tekanan struktural mulai muncul, terutama karena permintaan domestik yang relatif lemah dan deflasi yang berulang dalam harga produsen serta konsumen.
Keberhasilan China dalam mengurangi kemiskinan absolut sejak reformasi ekonomi ternyata juga menghasilkan ketidaksetaraan relatif, terutama antara perkotaan dan pedesaan. Dibalik turunnya angka kemiskinan, muncul realita disparitas pendapatan dan akses layanan dasar. Tidak mudah bagi China karena kendala ini menjadi hambatannya untuk bergeser dari negara berpendapatan menengah ke negara berpendapatan tinggi. Hal sensitif adalah tingkat pengangguran di China. Pengelolaan pasar tenaga kerja agar pengangguran perkotaan terjaga di sekitar 5% namun seiring makin bergantungnya industri berteknologi tinggi membuat makin menyempitnya penyerapan tenaga kerja. Konsumdi domestik belum kembali ditingkat sebelum pandemi Covid 19 sehingga pola konsumsi menurun. Tentu ini menjadi tantangan stabilitas pertumbuhan jangka panjang China yang dapat memicu ketidakpuasan sosial.
China mulai merasakan dampak dari overcapacity akibat warisan dari industrialisasi agresif disektor tradisional seperti perumahan, infrastruktur, industri dasar serta manufaktur. Tingkat deflasi meningkat yang mendorong pelemahan permintaan domestik dan menurunkan tingkat keuntungan Perusahaan. Upaya menjaga harga yang kompetitif mendorong makin tipisnya margin keuntungan produsen. Sebuah situasi deflasi yang dapat terus berkepanjangan. Seiring dengan keberhasilan program Made In China 2025, sebuah dorongan besar ekonomi China pada sektor teknologi maju seperti kendaraan Listrik, semikonduktor dan digitalisasi memang menempatkan China di posisi terdepan dalam beberapa industri masa depan. Hanya saja sektor ini cenderung padat modal dan minim kontribusi padat karya sehingga belum menjadi solusi terhadap dunia kerja.
Tidak hanya menghadapi tantangan domestiknya. Secara global, struktur ekonomi China yang sangat bergantung pada ekspor menghadapi tantangan yang tidak mudah. Dominasi manufaktur China yang ditunjukkan dari surplus perdagangan China yang sangat besar mencapai lebih dari US$1 triliun berpengaruh terhadap ketegangan dagang dan ancaman tarif dari mitra dagang besar. Hal yang sebenarnya berpotensi munculnya ketidakseimbangan akut jika ketergantungan terhadap surplus ekspor tidak dapat dipertahankan tanpa mengganti pendorong pertumbuhan dengan konsumsi domestik serta kebijakan fiskal yang kuat untuk mendukung permintaan internal. Cerminan dari perlambatan investasi dalam aset tetap seperti sektor properti yang sebelumnya menjadi pilar pertumbuhan mendorong melemahnya konsumsi domestik dan kepercayaan pasar. Kontraksi disektor ini menyumbang melemahnya konsumsi barang tahan lama dan tentu saja berperan dalam perlambatan dinamika ekonomi internal.
Menghadapi tantangan tersebut, China berjuang dengan pendekatan baru agar tetap pada jalur pertumbuhan yang berkelanjutan. Dorongan terhadap sektor usaha kecil dan menengah (UMKM) dan peningkatan kualitas SDM agar konsumsi domestik meningkat. Tidak cukup mengandalkan model ekspor‑led namun juga pada model berbasis permintaan domestik untuk memelihara pertumbuhan ekonomi China secara berkelanjutan.
Sebagian besar pengamat meyakini bahwa pertumbuhan ekonomi China sedikit melambat pada masa datang dibandingkan dengan masa puncaknya. Hal ini juga pernah dialami oleh Jepang di akhir tahun 1980an. Namun langkah-langkah China yang strategis pada peningkatan konsumsi, perluasan jaring pengaman sosial, dan reformasi pasar tenaga kerja akan terus dilakukan untuk memastikan keberlanjutan ekonomi China sebagai kekuatan global.
Pemerintah China memperluas program tukar‑tambah barang konsumen untuk merangsang belanja rumah tangga, termasuk penambahan subsidi dan cakupan produk yang lebih luas. Selain itu, menerbitkan kebijakan dukungan keuangan yang memandu bank dan pemerintah lokal untuk memberikan subsidi bunga pinjaman serta pembiayaan kredit konsumsi. Prioritas ini bahkan ditegaskan sebagai inti kebijakan ekonomi China tahun 2026 untuk memperluas permintaan domestik melalui koordinasi investasi dan konsumsi. Pendekatan Pembangunan ini menunjukkan pergeseran strategis China menuju ekonomi yang lebih berimbang dan tahan terhadap guncangan global. Perubahan struktural ekonomi global memang harus direspon dengan perubahan struktural ekonomi China terutama di ekonomi domestiknya.
Oleh : Moch. Yunus, Dosen prodi Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Airlangga

