Dilema Ekonomi dan Lingkungan di Lereng Penanggungan

Aktivitas alat berat di penambangan pasir dan batu di lereng gunung Penanggungan

Mojokerto – Aktivitas penambangan galian C di kawasan Desa Kunjorowesi, Ngoro,
Mojokerto masih berlangsung hingga kini, meski aktivitas pengerukan material batuan
menggunakan truk menimbulkan pro kontra di antara warga.

Dari pengamatan yang dilakukan Senin (18/5/2026), masih terlihat aktivitas alat-alat berat di
kawasan tambang menimbulkan debu tebal di udara sekitar lokasi penambangan. Keberadaan
tambang justru dirasakan manfaatnya oleh sebagian warga, terutama dari sisi ekonomi karena
memberikan lapangan pekerjaan dan pendapatan bulanan.

Menurut salah seorang warga, yang enggan diungkap identitasnya, sebagian masyarakat sulit
melepaskan ketergantungan terhadap keberadaan tambang, karena sebagian besar roda
ekonomi di kawasan itu bergantung pada aktivitas penambangan galian C.

“Dibilang nggak menguntungkan ya menguntungkan, karena di sini putaran ekonominya 75
persen dari tambang. Kalau tambangnya nggak ada, masyarakat akan kesulitan lagi,” katanya.
Bagi masyarakat sekitar, aktivitas tambang bukan lagi pemandangan baru. Selama bertahun-tahun, penambangan batu dan pasir telah menjadi bagian dari kehidupan warga di kawasan Kunjorowesi serta desa-desa lain di sekitar lereng gunung Penanggungan.

Bahkan menurutnya, pekerjaan masyarakat di Kunjorowesi mulai mengalami perubahan dalam beberapa tahun terakhir. Termasuk perubahan profesi dari sektor pertanian menjadi sektor tambang.

“Kalau dulu sekitar 70 persen dari sektor pertanian, sekarang tinggal 30 persen, jumlahnya terus menurun,” jelasnya.

Namun menurutnya, berkurangnya pekerjaan di sektor pertanian tidak sepenuhnya disebabkan aktivitas penambangan. Serangan hama seperti babi hutan dan kera menjadikan banyak warga mulai meninggalkan lahan pertanian mereka.

“Kalau bertani di atas, banyak hama, celeng, dan kera, membuat masyarakat tidak mau bertani lagi,” ujarnya.

Keberadaan tambang galian C justru menghadirkan dia sisi yang harus berjalan bersama, yaitu sebagai sumber pendapatan warga setempat, sekaligus memunculkan kekhawatiran mengenai kondisi lingkungan hidup yang rawan rusak.

“Dulu alamnya masih bagus dibanding sekarang, tapi kehidupan ekonomi masyarakat lebih
bagus sekarang,” ujarnya.

Adanya tambang juga memunculkan perbedaan sikap di tengah masyarakat, dengan dukungan terhadap tambang pada sisi yang satu, dan penolakan tambang yang mengancam kelestarian lingkungan pada sisi yang lain.

“Warga meminta, kalau tambang ini nggak akan ada lagi, maka minta pekerjaan yang baru,”
katanya.

Sebagian warga juga mengakui, bahwa keberadaan tambang galian C dirasakan manfaatnya secara ekonomi, terlebih bila telah diproses menjadi material pembangunan, seperti menjadi abu batu, pasir cuci, hingga batu koral untuk campuran aspal.

“Rata-rata ekonomi masyarakat di sini dari tambang,” singkatnya.

Hal serupa disampaikan salah seorang pekerja tambang di kawasan lereng Penanggungan, di bagian pengolahan batu. Ia mengatakan, sebagian besar masyarakat di wilayah itu menggantungkan ekonomi mereka pada sektor tambang. Meski demikian, ia mengakui bahwa aktivitas tambang mulai memunculkan persoalan baru di tengah masyarakat.

Seperti di Telogo dan Kunjorowesi, masyarakat mulai terbelah menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah warga yang mendukung adanya tambang, karena memberikan lapangan pekerjaan. Sedangkan kelompok warga yang lain menuntut penghentian aktivitas tambang, karena khawatir terhadap dampak kerusakan lingkungan yang telah terjadi.

“Yang kedua itu berharap tambang ditutup karena lahan-lahan mereka di atas menjadi tidak berfungsi,” tuturnya.

“Sedangkan yang menolak penutupan tambang, mereka protes karena akan kehilangan pekerjaan dan sumber pendapatan,” imbuhnya.

Perwakilan Sekolah Alam Penanggungan, Siska, mengatakan sebagian masyarakat mulai menyadari adanya perubahan kondisi lingkungan di kawasan lereng Penanggungan, terutama terkait sumber air di beberapa dusun.

“Beberapa warga di Dusun Genting mulai sadar kalau air yang dulunya melimpah sekarang mulai berkurang. Di Dusun Telogo malah berkurang banget,” ujarnya.

Menurutnya, keresahan masyarakat terhadap kondisi lingkungan juga mulai diwujudkan melalui berbagai kegiatan seperti penanaman pohon dan ritual bersih sumber air yang masih dilakukan warga hingga kini. Kondisi pro dan kontra di tengah masyarakat mengenai tambang, juga memunculkan ide
alternatif sumber pendapatan yang tidak merusak lingkungan.

Dalam musyawarah desa, sempat dibicarakan rencana pemanfaatan lahan bekas tambang untuk perkebunan kopi, terlebih kawasan Kunjorowesi dan Tlogo berada di ketinggian sekitar 500 meter di atas permukaan laut (mdpl), dan dirasa cocok untuk ditanami kopi robusta.

“Seandainya penggalian itu sudah nggak layak digali lagi, bagaimana kalau dialihfungsikan
buat tanaman kopi,” ucapnya, seraya berharap tetap mendapatkan sumber ekonomi sekaligus
mempertahankan ruang hidup di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *