BAKTERI BAIK BIKIN PERTUMBUHAN IKAN LELE NAIK

Surabaya – Melihat prospek ikan lele, Kelompok Guru dan Siswa di SMP Taruna Jaya 1 Surabaya berupaya untuk memanfaatkan lahan sekolah untuk aktivitas budidaya ikan lele sebagai sarana pembelajaran siswa. Sebagai sekolah yang mengutamakan pendidikan berbasis lingkungan (environmental education), SMP Taruna Jaya 1 Surabaya mengajarkan siswanya bagaimana cara melakukan aktivitas budidaya ikan lele. Hal tersebut akan menjadi bekal bagi siswanya untuk memiliki jiwa wirausaha (entrepreneur). Aktivitas budidaya lele ini juga mengajarkan mereka banyak softskill seperti tanggungjawab, kreativitas, dan kerjasama. Kelompok guru di SMP Taruna Jaya 1 Surabaya juga mengajak warga sekitar mengenai edukasi dan cara budidaya ikan lele untuk memberikan kontribusi untuk lingkungan sekitar. Akan tetapi, pelaksanaan budidaya lele sendiri masih terdapat banyak kendala. Salah satunya adalah budidaya lele dirasa mahal oleh kelompok guru, siswa, dan masyarakat sekitar di SMP Taruna Jaya 1 Surabaya. Hal ini dikarenakan uang yang mereka gunakan habis untuk pembelian pakan. Pakan menentukan 60 70% biaya produksi apabila tidak dapat dimanajemen dengan baik.

Permasalahan utama yang dihadapi oleh mitra adalah budidaya ikan lele yang tidak sustainable. Hal ini dikarenakan mereka merasa bahwa bisnis ikan lele ternyata tidak menguntungkan. Mitra banyak mengeluarkan biaya untuk membeli pelet/pakan ikan yang dirasa mahal dengan hasil panen yang tidak optimal. Ikan lele yang dihasilkan dari budidaya mereka sangat lama dan ukurannya kecil. Selama ini mereka membeli pelet dengan nilai protein yang rendah (<30%). Penggunaan pelet yang murah ini membuat pertumbuhan ikan lele menjadi lama. Padahal ikan lele membutuhkan pakan dengan protein lebih dari 30%. Protein sangat penting bagi pertumbuhan organisme, termasuk lele. Apabila proteinnya tidak optimum, ikan lele akan menggunakan kandungan nutrisinya hanya untuk bertahan hidup sehingga pertumbuhannya tidak optimal. Normalnya ikan lele dapat dipanen dalam waktu 3 bulan. Namun, lele yang dibudidayakan di sana berukuran kecil dan perlu waktu lebih dari 3 bulan untuk mencapai ukuran panen. Hal ini menunjukkan bahwa produktivitas ikan lele di SMP Taruna Jaya 1 Surabaya rendah. Selain itu, sebelumnya mereka sudah menggunakan inovasi penggunaan pakan yang kurang sesuai seperti bangkai ayam, jeroan ayam, atau sisa pakan, kondisi kolam budidaya ikan lele di sana kurang optimal. Mereka mendapatkan informasi tersebut dari media sosial seperti instagram dan tiktok. Ternyata, inovasi yang diterapkan tersebut kurang optimal. Bangkai ayam, jeroan ayam, atau sisa makanan bisa mengandung bakteri dan virus yang dapat menyebabkan ikan lele yang dibudidayakan sakit. Hal ini menyebabkan kolam menjadi keruh dan ikan lele di sana mudah terserang penyakit yang menyebabkan kematian.

Salah satu inovasi yang pernah dicoba oleh kelompok guru di SMP Taruna Jaya 1 Surabaya adalah mencoba pakan lain seperti bangkai ayam, jeroan ayam, atau sisa makanan yang tidak termakan karena harganya yang murah. Akan tetapi pemberian bangkai atau makanan sisa tidak baik bagi ikan karena makanan yang diberikan tidak sehat. Ikan jadi mudah terserang penyakit akibat jamur, virus atau bakteri karena sistem kekebalan inang turun (Lusianti dkk., 2016). Hal ini menyebabkan lele menjadi lemas, warna gelap, nafsu makan menurun hingga kematian (Meylani dan Putra, 2018; Afrianto dan Liviawaty, 1992). Selain itu, kualitas air pada kolam juga menurun dan keruh. Hal ini berdampak pada keuntungan dari aktivitas budidaya ikan lele dimana kegiatan latihan wirausaha dirasa selalu gagal. Selain itu, semangat para guru di SMP Taruna Jaya 1 Surabaya menjadi turun karena dirasa tidak menguntungkan. Jika masalah ini tidak terselesaikan, maka seluruh kegiatan budidaya ikan lele di tempat tersebut akan ditutup. Padahal kegiatan budidaya lele ini merupakan salah satu inovasi yang baik dalam meningkatkan softskill siswa di sana, terutama terkait kerjasama, tanggungjawab, dan inovasi.

Oleh karena itu, tim pengmas (pengabdian masyarakat) dari Departemen Akuakultur, Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK), Universitas Airlangga ini adalah mengenalkan penggunaan probiotik dalam budidaya ikan lele kepada kelompok guru di SMP Taruna Jaya 1 Surabaya. Probiotik adalah mikroorganisme hidup yang memberikan manfaat untuk kesehatan makhluk hidup, termasuk ikan . Dalam budidaya ikan lele, probiotik dapat meningkatkan kecernaan, pertumbuhan, dan meningkatan sistem imun pada lele sehingga dapat menekan biaya pakan. Probiotik juga dapat meningkatkan efisiensi dalam manajemen kualitas air karena pembudidaya tidak perlu sering mengganti air dan menjaganya agar tetap baik. Tim pengmas Departemen Akuakultur, FPK, Universitas Airlangga melakukan sosialisasi dan demonstrasi terkait penggunaan probiotik pada budidaya ikan lele.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 4 Agustus 2025. Pelatihan dilaksanakan secara luring bertempat di Aula SMP Taruna Jaya I Surabaya pada pukul 13.00-15.00 yang terbagi menjadi sesi pemaparan materi, sesi diskusi, dan sesi praktik aplikasi probiotik. Peserta pelatihan berjumlah 25 orang yang meliputi : kepala sekolah, guru, staff sekolah, dan siswa yang tergabung dalam minat perikanan. Peserta sangat antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, termasuk pada sesi praktik. Kegiatan pendampingan optimalisasi budidaya ikan air tawar melalui pemberian probiotik pada pakan di SMP Taruna Jaya I Surabaya telah dilaksanakan dengan baik. Melalui kegiatan ini pula warga sekolah di sana memperoleh pengetahuan serta keterampilan terkait aplikasi probiotik pada budidaya ikan lele. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas budidaya ikan lele di sana dan menjadi bekal para guru dan siswa agar bisa melakukan aktivitas budidaya dengan baik. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan di bawah Skema Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Universitas Airlangga tahun pendanaan 2025 dengan nomor kontrak 1295/B/UN3.FPK/PM./2025.

Oleh: Syifania Hanifah Samara (Departemen Akuakultur, Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *