Surabaya – Sebuah pohon Natal setinggi 7 Meter menyemarakkan suasana Natal di Perpusatakaan Petra Christian University sejak seminggu menjelang Hari Raya Natal hingga 31 Januari 2026. Pohon Natal yang diberi nama “Terang dari Timur” ini mengangkat tema Papua, dan menampilkan berbagai hal dan pernak-pernik tentang Papua.
Pohon Natal berdiameter 3,3 Meter dengan rangka kayu ini dibuat dengan memakai kain sepanjang 63 Meter sebagai bahan utama, dengan menampilkan 11 motif hasil generative-AI yang terinspirasi dari kekayaan simbol-simbol Papua seperti; Tifa, Honai, Perisai Asmat, hingga Burung Cendrawasih.
Kepala Perpustakaan Petra Christian University (PCU), Dian Wulandari, mengungkapkan bahwa pemilihan tema “Terang dari Timur” mengikuti nuansa budaya daerah yang dipilih oleh universitas dalam Perayaan Natal 2025. Makna secara Kristiani, Dian mengatakan, universitas ingin memaknai Natal adalah kelahiran Kristus yang diwartakan kepada orang majus dengan perantaraan bintang dari timur.
“Harapannya terang Kristus juga membawa damai bagi dunia, seperti matahari terbit dari timur yang membawa harapan baru setiap hari,” kata Dian Wulandari.

Sedangkan makna khusus bagi Papua, Universitas Kristen Petra ingin ikut mentransformasi Papua menjadi lebih baik lagi ke depannya, karena selama ini Papua banyak dikenal dari sisi konflik sosial dan ketertinggalan dibandingkan daerah lain di Indonesia.
“Kami ingin berperan di dalam mentransformasi Papua menjadi pulau yang nantinya lebih kondusif, mungkin konflik sosialnya lebih bisa diredam, kemudian masyarakatnya lebih maju, tidak terbelakang lagi, dapat perhatian lebih baik lagi,” lanjut Dian.
Pohon Natal ini juga memiliki makna sebagai penuntun kita untuk kembali kepada Sang Terang, yaitu Yesus Kristus, yang lebih dahulu memberi dan mengasihi.
“Dengan menonjolkan Papua sebagai ‘Timur’ Indonesia, kita menegaskan bahwa terang kasih, misi, dan kepedulian Natal itu menjangkau seluruh pelosok Nusantara,” imbuhnya.
Petra Christian University sampai saat ini telah memberikan perhatian khusus kepada mahasiswa asal Papua, melalui beasiswa untuk 5 mahasiswa kedokteran, 1 mahasiswa kedokteran gigi, dan beberapa mahasiswa dari fakultas keguruan dan ilmu pendidikan.
“Dari FKIP di pendidikan guru sekolah dasar dan pendidikan guru anak usia dini, itu kami biayai juga,” ucap Dian.

Pengerjaan Pohon Natal “Terang dari Timur” ini, ujar Dian, membutuhkan waktu sekitar tiga minggu, dan melalui proses pemasangan yang tidak mudah. Selain ide tema Pohin Natal dari Perpustakaan UK Petra, Dian mengaku melibatkan mahasiswa dalam pengerjaan bersama tenaga ahli. Sedangkan hiasan atau ornamen Pohon Natal tema Papua ini banyak di didukung saah satu tenaga kependidikan UK Petra, yang meminjamkan koleksi pribadinya berupa pernak pernik barang dari Papua.
“Hiasannya ada 28 Tifa, tas khas Papua atau Nokennya ada 3, ada 4 tombak, ada 4 perisai, dan 2 patung Papua, semua koleksi Pak Aris, Kepala Apresiasi dan Pengembangan Musik Gereja. Lainnya juga ada dari mahasiswa,” Dian menjelaskan.
Keindahan Pohon Natal tema Papua ini semakin terlihat terlihat cantik dengan kehadiran Mahkota Burung Cendrawasih di puncak Pohon Natal, dan replika rumah adat suku Dani yaitu Honai di samping Pohon Natal.
Karya ini, kata Dian, menjadi pengingat bagi setiap pengunjung Perpustakaan UK Petra, bahwa terang itu tidak hanya dirayakan, tetapi juga harus diteruskan. Pohon ini mengajak semua orang untuk menjadi pembawa kepedulian dan sukacita bagi sesama, serta mewujudkan semangat Natal yang sejati di tengah masyarakat. (Petrus Riski)

