Bayangkan seorang anak muda dalam kesehariannya selalu memegang telepon genggam. Jempolnya bergerak cepat dari satu video ke video berikutnya. Dalam hitungan detik, ia mendapatkan hiburan, berita, tips belajar, bahkan penjelasan tentang suatu persoalan. Di tengah kebiasaan konsumsi informasi semacam itu, muncul pertanyaan: masihkah anak muda mau mendengarkan radio?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting ketika radio ditempatkan dalam konteks teknologi pendidikan.
Selama ini teknologi pendidikan sering dipahami sebagai sesuatu yang identik dengan komputer, internet, aplikasi pembelajaran, kecerdasan buatan, learning management system atau video digital. Padahal, sejarah teknologi pendidikan jauh lebih panjang. UNESCO mencatat bahwa teknologi informasi dan komunikasi telah digunakan dalam pendidikan sejak popularisasi radio pada 1920-an. Dengan kata lain, radio bukan berada di luar teknologi pendidikan. Radio adalah bagian dari sejarah teknologi pendidikan itu sendiri.
Radio pendidikan bahkan dapat dipandang sebagai bentuk awal pembelajaran jarak jauh. Dousay dan Janak dalam artikel All Things Considered: Educational Radio as the First MOOCs menyebut radio pendidikan sebagai salah satu bentuk awal dari apa yang sekarang dikenal sebagai Massive Open Online Courses atau MOOCs.
Artinya, persoalan radio hari ini bukan hanya apakah radio merupakan teknologi pendidikan. Sebab, radio sudah lama menjadi bagian darinya. Lebih jauh, persoalannya adalah bagaimana radio beradaptasi ketika teknologi pendidikan telah berubah secara drastis.
Radio Harus Tinggalkan Pola Lama
Anak muda kini hidup dalam lingkungan media yang berbeda. Mereka terbiasa mendapatkan informasi melalui video pendek, media sosial, podcast, streaming, mesin pencari dan berbagai aplikasi berbasis kecerdasan buatan.
Dalam situasi tersebut, radio tidak cukup hanya mempertahankan pola lama: penyiar berbicara, pendengar mendengarkan, lalu program selesai. Lebih jauh dari itu. Radio harus bergerak dari media penyiaran menuju ekosistem pembelajaran.
UNESCO dalam Global Education Monitoring Report 2023: Technology in Education memberikan perspektif penting. Teknologi pendidikan tidak seharusnya dipilih hanya karena teknologinya baru atau canggih. Pertanyaan pertama justru apakah teknologi tersebut tepat untuk kebutuhan belajar? Apakah inklusif? Apakah efektif? Dan apakah berkelanjutan?
Perspektif dan Peluang Bagi Radio di Era Sosial Media
Radio memiliki keunggulan yang tidak selalu dimiliki teknologi digital berbiaya tinggi. Radio relatif murah, dapat menjangkau wilayah luas dan tidak selalu membutuhkan koneksi internet. UNESCO mencatat bahwa hampir 40 negara masih menggunakan radio sebagai media pembelajaran, terutama untuk menjangkau kelompok yang sulit memperoleh akses pendidikan.
Bahkan dalam situasi krisis, radio dapat menjadi teknologi pendidikan yang penting. UNESCO mencatat bahwa sekitar 826 juta siswa yang terdampak penutupan sekolah, sekitar 706 juta siswa di antaranya tidak memiliki akses internet.
Fakta tersebut menunjukkan satu hal: teknologi pendidikan tidak selalu berarti teknologi paling mutakhir. Sebab, teknologi yang tepat adalah teknologi yang mampu menjawab kebutuhan peserta didik.
Karena itu, radio pendidikan tidak perlu merasa rendah diri di hadapan TikTok, YouTube atau kecerdasan buatan. Radio justru dapat memainkan peran yang berbeda.
TikTok unggul dalam menarik perhatian. Radio dapat mengembangkan perhatian menjadi pemahaman.
TikTok dapat membuat seseorang tertarik pada sebuah topik dalam satu menit. Radio dapat mengajak pendengar memahami topik tersebut selama 30 menit, satu jam, atau melalui rangkaian program.
Di sinilah konsep teknologi pendidikan menjadi penting. Radio bukan sekadar alat untuk mengirimkan suara, tetapi dapat menjadi medium untuk merancang pengalaman belajar.
Kompetensi Penyiar Harus Selaras dengan Kebutuhan Pendengar Radio
Era yang serba digital saat ini, penyiar tidak hanya dituntut sebagai orang yang bersuara dan memiliki suara yang bagus saja. Lebih jauh dari itu. Penyiar harus memiliki kemampuan membuat konten, memahami isu terkini dan sesuatu yang sedang viral, serta menyajikan acara dengan menarik, tidak hanya melalui audio saja, namun juga melalui visual.
Format siaran dapat dibuat lebih interaktif. Penyiar dapat memberikan pertanyaan, meminta pendengar menjawab melalui pesan suara, menghadirkan narasumber kompeten, guru atau ahli, memberikan tugas sederhana, menghubungkan materi dengan kehidupan sehari-hari, kemudian mendiskusikan jawabannya pada episode berikutnya.
Model seperti ini sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. UNESCO menjelaskan konsep Interactive Radio Instruction atau IRI sebagai pendekatan yang membuat radio satu arah menjadi media pembelajaran aktif. Peserta didik tidak hanya mendengarkan, tetapi merespons pertanyaan, melakukan aktivitas dan bekerja dalam kelompok selama program berlangsung.
Maka, radio sebagai sarana pendidikan masa kini seharusnya tidak berhenti pada konsep “belajar melalui radio”, tetapi berkembang menjadi “belajar bersama radio.”
Radio dan Integrasi dengan Media Digital
Radio dapat menyiarkan pembahasan utama melalui frekuensi FM atau streaming. Rekamannya dapat menjadi podcast. Potongan pembahasannya dapat diubah menjadi video pendek untuk TikTok, Instagram Reels atau YouTube Shorts. Materi pendukung dapat ditempatkan di situs atau platform pembelajaran. Pendengar dapat mengirim pertanyaan melalui WhatsApp. Bahkan kecerdasan buatan dapat digunakan untuk membantu transkripsi, pengarsipan dan pengembangan materi, tentu dengan tetap mempertahankan verifikasi dan pengawasan manusia.
Dengan demikian, radio tidak berkompetisi langsung dengan TikTok. Namun justru berkolaborasi. Radio dapat menggunakan TikTok sebagai pintu masuk menuju proses pembelajaran yang lebih mendalam.
Di sinilah terjadi perubahan cara pandang. Selama ini mungkin ada anggapan bahwa teknologi baru akan menggantikan teknologi lama. Namun dalam pendidikan, persoalannya tidak sesederhana itu.
UNESCO menegaskan bahwa teknologi seharusnya mendukung pendidikan yang berpusat pada manusia, bukan menggantikan interaksi manusia. Teknologi harus dipilih berdasarkan kebutuhan peserta didik, bukan semata-mata karena teknologi tersebut tersedia.
Radio Bukan Sekadar Suara
Radio pendidikan membutuhkan penyiar yang tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga memahami pedagogi, literasi digital dan karakter peserta didik. Penyiar harus mampu mengubah informasi menjadi percakapan yang bermakna.
Guru atau narasumber juga tidak cukup hanya menyampaikan materi. Mereka harus mampu membangun interaksi. Sementara lembaga penyiaran perlu mulai melihat arsip siaran sebagai sumber belajar digital.
Satu wawancara dengan seorang ahli, misalnya, tidak harus berakhir ketika siaran selesai. Rekamannya dapat menjadi podcast. Transkripnya dapat menjadi bahan bacaan. Beberapa bagian dapat menjadi video pembelajaran pendek. Pertanyaan pendengar dapat dikembangkan menjadi episode baru.
Dengan pola tersebut, satu produksi radio dapat melahirkan berbagai sumber belajar. Ini sekaligus menjawab pertanyaan awal: masihkah anak muda mau mendengarkan radio?
Jawabannya bisa ya, tetapi dengan syarat radio memahami bahwa anak muda tidak lagi hanya menjadi pendengar. Mereka adalah pengguna, peserta, bahkan produsen konten.
Radio harus memberi ruang bagi mereka untuk bertanya, berdiskusi, berkomentar, mengirim cerita, membuat laporan sederhana dan bahkan terlibat dalam produksi program.
UNESCO hingga kini masih mengembangkan penggunaan radio sebagai ruang pembelajaran dan literasi media. Salah satu contohnya adalah audio-based MOOC tentang Media and Information Literacy yang menggunakan format audio, cerita dan kuis untuk membantu masyarakat memahami informasi digital, misinformasi, disinformasi, ujaran kebencian dan kecerdasan buatan.
Ini menunjukkan bahwa audio belum mati di era video. Tetapi yang berubah adalah cara audio dikemas dan didistribusikan.
Karena itu, masa depan radio bukan memilih; antara radio atau TikTok, radio atau AI, radio atau podcast. Masa depannya justru terletak pada kemampuan menghubungkan semuanya.
Radio dapat menjadi suara yang menjelaskan. TikTok menjadi pintu perhatian. Podcast menjadi ruang pendalaman. Platform digital menjadi ruang interaksi. Dan kecerdasan buatan menjadi alat bantu produksi serta personalisasi. Tetapi pusatnya tetap manusia dan tujuan penggunaan radio itu sendiri untuk ditempatkan sebagai sarana pendidikan.
Pada akhirnya, tantangan radio pendidikan di era TikTok bukan sekadar membuat anak muda mau mendengarkan radio. Tantangan yang lebih besar adalah membuat mereka merasa bahwa apa yang mereka dengarkan berguna bagi kehidupan mereka.
Radio harus menawarkan pengetahuan, bukan sekadar suara. Interaksi, bukan sekadar siaran. Pengalaman belajar, bukan sekadar program. Sebab teknologi pendidikan bukan tentang siapa yang memiliki teknologi paling canggih. Teknologi pendidikan adalah tentang bagaimana teknologi digunakan untuk membuat manusia belajar lebih baik.
Dan dalam konteks itu, radio masih memiliki tempat.
Bukan sebagai teknologi masa lalu, tetapi sebagai teknologi pendidikan yang terus berevolusi.
Oleh: Dini Nastiti Wardani, S.I.Kom., M.I.Kom.
Mahasiswa S3 Teknologi Pendidikan UNESA
Editor: Petrus Riski

